URstyle

Wah, Dosen ITS Ini Ciptakan Sunscreen dari Tanaman Obat Guys!

Nivita Saldyni, Kamis, 23 Januari 2020 10.25 | Waktu baca 3 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Wah, Dosen ITS Ini Ciptakan Sunscreen dari Tanaman Obat Guys!
Image: Tabis surya (sunscreen) buatan dosen ITS. (Humas ITS)

Surabaya - Urbanreaders, tau kan kalau tabir surya itu penting banget masuk dalam rutinitas skincare kamu?

Apalagi bagi kita yang ada di negara tropis seperti Indonesia, tabir surya penting banget digunakan setiap hari untuk melindungi wajah, terutama dari sinar UV (ultraviolet).

Nah, tapi tau nggak sih kalau ternyata anti radiasi sinar UV bisa dihasilkan dari ekstrak tanaman obat asal Indonesia?

Yup, penelitian terbaru dari dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr rer nat Fredy Kurniawan SSi MSi menemukan kalau ekstrak tanaman sambiloto bisa jadi anti radiasi Ultraviolet (UV), guys!

Baca Juga: Perlu Nggak Sih Pakai Sunscreen Saat Musim Hujan?

Bahkan, nggak kalah lho sama produk tabir surya di luar sana. Tabir surya hasil penelitian Fredy yang mengandung ekstrak tanaman sambiloto itu juga dilengkapi dengan nilai Sun Protection Factor (SPF) tertentu.

Fredy mengaku idenya itu berangkat dengan melihat kondisi Indonesia yang terkenal punya keanekaragaman jenis tanaman, khususnya tanaman obat yang kadang masih kurang optimal pemanfaatannya.

Untuk itu Fredy mencoba menggali potensi tanaman obat yang telah banyak dikembangkan di Indonesia.

“Di sini kami mencoba menggali lebih dalam potensi lain yang belum pernah dikembangkan pada penelitian sebelumnya, yang penting tanaman ini tersedia melimpah di Indonesia dengan budidayanya yang mudah,” kata Fredy.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Sunscreen Spray Biar Kulit Kamu Nggak Gosong

Lewat penelitian ini, Kepala Departemen Kimia, Fakultas Sains dan Analitika Data ITS itu juga berharap bisa meningkatkan nilai ekonomis dari aset alami Indonesia.

Apalagi, tanaman sambiloto yang punya nama latin Andrographis paniculata L. Ness ini ternyata salah satu jenis tanaman obat yang jadi prioritas utama untuk dikembangkan di Indonesia, guys.

Selain itu, tanaman ini juga punya senyawa aktif khas yang dikenal dengan nama “King Bitter”. Senyawa itu adalah senyawa bioaktif primer Andrographolide, yang merupakan golongan senyawa terpenoid khususnya diterpene lakton.

Nah, untuk mengekstraksi tanaman obat ini, Fredy yang dibantu tim mahasiswa menggunakan metode maserasi.

Lalu, metode spektrofotometri Ultraviolet dan spektrofotometri fluoresens digunakan untuk metode analisisnya.

Baca Juga: Tips Perawatan Kulit di Tengah Cuaca Panas yang Ekstrem

Sedangkan untuk metode karakterisasi hasil ekstraksi, ia dan tim menggunakan metode spektrometri infra merah atau Spektrofotometer Fourier Transform Infra Red (FTIR) dan kromatografi Liquid Chromatography-Mass Spectrometer (LCMS/MS).

“Secara prinsip, pertama tanaman obat sambiloto diambil bagian daunnya kemudian dipreparasi dan dilakukan proses maserasi selama beberapa waktu, kemudian dilakukan karakterisasi dan analisis terhadap hasil ekstraksi tanaman obat sambiloto, terakhir adalah modifikasi dan aplikasi ekstrak tanaman tersebut sebagai UV Protector,” kata Fredy.

Selama proses penelitian, beberapa kendala juga sempat dialami. Salah satunya adalah kompleksnya komponen (matriks) yang terkandung di dalam produk itu.

Fredy mengaku hal itu dikarenakan sampelnya berupa bahan alami.

Kini, penelitiannya itu telah dalam proses publikasi ilmiah dan kabarnya sih bakal diproduksi secara massal.

“Memang saat ini belum ada kerja sama dengan pihak ketiga, tetapi untuk ke depannya sudah ada rencana untuk bisa diproduksi massal,” katanya.

Fredy juga berharap, penelitian ini nantinya bisa memberikan manfaat dan berdaya guna bagi masyarakat luas.(*)

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait