menu
user
Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URsport

Asal Usul European Super League, Liga yang Tak Diinginkan

Rezki Maulana,
20 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Asal Usul European Super League, Liga yang Tak Diinginkan
Image: European Super League (ilustrasi: Twitter @Sporf)

 

Jakarta - Belum juga bergulir, European Super League sudah mengundang kontroversi. Kira-kira seperti apa awal mula ide mengadakan liga untuk tim-tim besar Eropa tersebut?

Pada Senin (19/4) kemarin, 12 klub besar Eropa yang dipimpin Presiden Real Madrid Florentino Perez mengumumkan pembentukan European Super League. Klub-klub tersebut adalah Arsenal, Liverpool, AC Milan, Atletico Madrid, Chelsea, Barcelona, Inter Milan, Juventus, Manchester City, Manchester United, Real Madrid, dan Tottenham Hotspur.

Adalah kesulitan keuangan karena pandemi virus corona yang makin membulatkan Perez dkk. untuk membentuk European Super League. Pandemi adalah momentumnya, tapi rencana pembentukan European Super League sudah tercetus sejak lama, tepatnya pada 1999.

Baca juga:  Ditentang UEFA, Ini 5 Fakta European Super League 

Pada 1998 silam, sebuah perusahaan Italia, Media Partners, menelurkan ide tersebut. Namun, usulan itu dimentahkan oleh UEFA yang kemudian mengubah format Liga Champions hingga seperti sekarang.

Lalu, ide tersebut dikemukakan lagi oleh Perez pada 2009, yang mengkritik format Liga Champions saat itu dan meminta kompetisi European Super League untuk diadakan. Sayangnya, rencana itu menguap lagi meski belum dikubur selama-lamanya,

Seperti impian yang selalu ada, begitulah Perez selalu menjaga asa untuk menghelat European Super League. Pada 2016, terjadi pertemuan di Hotel Dorchester, London, Inggris. Penyokong dana International Champions Cup (ICC), turnamen pramusim yang mempertemukan tim-tim besar di Amerika Serikat, bernama Stephen Ross jadi inisiatornya.

Dia mengundang beberapa pimpinan klub papan atas Premier League seperti Ed Woodward (Manchester United), Bruce Buck (Chelsea), Ivan Gazidis (Arsenal), Ferran Soriano (Manchester City), dan Ian Ayre (Liverpool).

Baca juga: Suporter 'Big Six' Premier League Menolak European Super League!

Pertemuan itu membahas format kompetisi antarklub Eropa yang baru, sebab Liga Champions saat ini kurang kompetitif. Lalu, ide soal European Super League tercetus lagi dengan tim-tim besar sebagai pesertanya.

Hadir juga Presiden Relevant Sports, Charlie Stilitano, yang merupakan organisator dari International Champions Cup (ICC), dalam pertemuan itu. Dia menyebut klub besar Eropa butuh panggung lebih besar dari sekadar Liga Champions.

"Mungkin ini terdengar arogan, tapi itulah kenyataannya. Saat Anda menonton ICC di musim panas, akan banyak klub besar yang bertarung. Lalu, Anda akan bertanya, 'Bukankah ini pertandingan Liga Champions?', dan orang di sebelah Anda menjawab, 'Bukan. Pertandingan Liga Champions itu PSV Einhoven dan Gent'," ujar Stilitano seperti dikutip Guardian.

Dua tahun kemudian, Football Leaks mengklaim bahwa pembicaran European Super League makin serius dan dilakukan secara diam-diam oleh ke-12 klub raksasa tersebut. Puncaknya awal bulan ini ketika mereka memutuskan untuk mengumumkan European Super League.

Baca juga:  UEFA Geram, Ancam Sanksi Klub Peserta European Super League 

Menurut laporan Guardian yang mengutip pernyatan salah satu petinggi klub besar, European Super League memang tidak terhindarkan lagi dan harus dihelat. Sebab hal itu akan mendatangkan pemasukan besar untuk klub-klub.

Bahkan ketika tim baru ikut saja, sudah ada dana 300 juta paun masuk ke dalam rekening tim-tim tersebut. Nah, kini tinggal ditunggu bagaimana kelanjutan European Super League, apakah tetap bergulir atau tidak.

 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait