menu
user
Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URnews

Bappenas Siapkan 4 Skenario Net Zero Emission Indonesia, FPCI : 2050 Solusi Terbaik

Nivita Saldyni,
15 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Bappenas Siapkan 4 Skenario Net Zero Emission Indonesia, FPCI : 2050 Solusi Terbaik
Image: Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa dalam Indonesia Net-Zero Summit 2021 (Foto: Nivita/Urbanasia)

 

Jakarta – Menuju Indonesia Emas di tahun 2045, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa mengatakan pihaknya sudah menyiapkan empat skenario Indonesia mencapai net zero emission atau nol emisi gas rumah kaca. Sebab menurutnya, kebijakan net zero emission merupakan upaya tepat untuk menyelamatkan Indonesia dari middle income trap sekaligus ancaman dampak perubahan iklim.

“Bappenas telah melakukan beberapa exercise dan terdapat beberapa skenario untuk mencapai net zero emission Indonesia berdasarkan pilihan tahun tercapainya net zero emission, yaitu 2045, 2050, 2060, atau 2070,” kata Suharso dalam Indonesia Net-Zero Summit 2021 yang diikuti Urbanasia pada Selasa (20/4/2021).

Beberapa skenario ini, kata Suharso, memiliki implikasi yang berbeda-beda terhadap pola pembangunan dan pilihan kebijakan yang harus diterapkan mulai dari sekarang.

Baca juga: Dalam 2 Menit, Anies Baswedan Berhasil Pengaruhi PBB soal Dukungan Aksi Iklim 

“Hasil simulasi kami menunjukkan bahwa kita mencapai puncak emisi gas rumah kaca di sektor energi pada 2027, jika skenario yang kita pilih net zero emission pada 2045 atau 2050. Puncak emisi gas rumah kaca pada 2033 hingga 2034, jika kebijakan yang dipilih adalah net zero emission 2060 atau 2070,” jelasnya.

Jadi kalau kita ingin gas rumah kaca segera mungkin mencapai puncaknya, yaitu pada 2027 dan kemudian terjadi penurunan, maka net zero emission Indonesia akan mencapai nol pada 2045 atau 2050. Namun, dengan adanya persoalan energi baru dan terbarukan yang saat ini masih dihadapi Indonesia, maka skenario puncak emisi gas rumah kaca akan bergeser ke tahun 2033 hingga 2034.

“Sebab pergeseran setahun itu menggeserkan lima sampai 10 tahun pencapaian net zero emission,” tegasnya.

Sementara di sektor lahan, Suharso menjelaskan bahwa dengan kebijakan reforestrasi dan restorasi lahan, Indonesia dapat mencapai net carbon sink pada tahun 2038 hingga 2039 untuk skenario jika kita mencapai net zero emission pada 2045 dan 2050 dan pada tahun 2041 hingga 2042 untuk skenario net zero emission pada tahun 2060 dan 2070.

Menanggapi hal ini, pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal memohon agar Bappenas menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo untuk memilih scenario net zero emission pad 2045 atau 2050. Sebab jika Indonesia memilih 2070, maka sudah sangat terlambat.

1618923635-Dino-Patti.JPGSumber: Dino Patti Djalal, pendiri Foreign Policy Community of Indonesia/FPCI (Foto: Nivita/Urbanasia)

“Kalau empat skenario net zero itu akan disampaikan ke Presiden, mohon titipan dari kami agar ditekankan pilih yang 2045 atau 2050 pak. Mengapa? 2070 sudah terlambat. Menurut science, kita hanya ada waktu 30 tahun sampai 2050. Jadi kalau 2070 yang diambil itu sudah satu generasi terlambat,” kata Dino.

“Ini bukan ancaman bagi Jakarta, Banten atau Padang, atau nasional, sektoral, ini ancaman sepanjang masa untuk umat manusia. Jadi taruhannya sangat besar, mohon sekali bisa diyakinkan bahwa 2050 is the best net zero solution,” tegasnya.

Baca juga: Kota Jakarta Termahal di Dunia Urutan ke-20, Ini Kata Wagub 

Sementara itu, Menteri Perhubungan RI periode 1973-1978 sekaligus ahli lingkungan, Emil Salim, menegaskan bahwa kebijakan net zero emission harus segera dilakukan. Bahkan bukan nol lagi, tetapi negatif.

“Zero emission mencapai nol menjadi keharusan, bahkan negatif,” kata Emil.

Hal ini harus dilakukan karena tahun 2021 dunia telah menghasilkan 51 miliar ton gas rumah kaca. Akibatnya, panas bumi meningkat akibat perubahan iklim karena efek gas rumah kaca. Ini masalah besar sebab gas-gas ini tidak bertahan dalam hitungan satu dua tahun, namun puluhan, ratusan, hingga ribuan tahun.

“Maka strategi untuk zero gas rumah kaca tidak cukup. Dia hanya menunda meledaknya dampak gas rumah kaca itu. Maka gas rumah kaca pertama harus berkurang menjadi nol, untuk kemudian diturunkan. Itu grand strategi yang harus dikejar jika kita mau menyelamatkan bumi,” pungkasnya.

“Itu berarti pada 2050 target net zero emission itu harus sudah dicapai pada 2050 untuk mencegah menggelindingnya suhu karena berkumpulnya gas-gas rumah kaca agar jangan sampai bergeser dari 1,5 derajat celsius ke 3 derajat celsius. Jika sudah sampai ke 3 derajat celsius, maka perikehidupan akan luar biasa sulitnya bagi alam, hewan, dan manusia,” tutupnya.

 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait