Beautydoozy

Soal Gizi Anak, Kenyang Saja Ternyata Belum Cukup!

Urbanasia, Minggu, 8 Februari 2026 13.46 | Waktu baca 3 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Soal Gizi Anak, Kenyang Saja Ternyata Belum Cukup!
Image: Ilustrasi - Anak sedang makan makanan tinggi protein. (Freepik)

Jakarta — Bagi banyak orang tua, anak yang mau makan dan terlihat aktif sering kali dianggap cukup sebagai tanda sehat. Piring kosong, jadwal makan teratur, dan berat badan yang sesuai usia menjadi tolok ukur utama. Namun dalam konteks gizi anak, kenyang ternyata belum tentu berarti kebutuhan nutrisi terpenuhi.

Dalam dunia medis, persoalan ini dikenal sebagai hidden hunger, kondisi ketika anak mengalami kekurangan zat gizi mikro penting meski asupan makannya terlihat cukup. 

Data menunjukkan satu dari dua anak usia 0,5 hingga 12 tahun belum mencukupi kebutuhan mikronutrien seperti zinc, vitamin A, vitamin B kompleks, vitamin C, dan vitamin D. Padahal, nutrisi ini berperan penting dalam menjaga energi, fokus, daya tahan tubuh, hingga fungsi kognitif anak.

Kondisi tersebut sering kali tidak disadari karena tidak selalu menimbulkan gejala yang kasat mata. Anak tetap bisa tampak ceria dan aktif, namun di balik itu berisiko mengalami gangguan konsentrasi, mudah lelah, hingga hambatan tumbuh kembang dalam jangka panjang. 

Kekurangan vitamin D sendiri masih menjadi perhatian serius, dengan satu dari empat anak Indonesia tercatat mengalami insufisiensi atau defisiensi nutrisi yang berperan penting bagi imunitas dan kekuatan tulang.

Menurut dr. Mesty Ariotedjo, CEO Tentang Anak, pemenuhan nutrisi anak tidak bisa hanya berhenti pada soal makan kenyang.

“Nutrisi anak yang tercukupi adalah modal dari otak yang cerdas dan generasi negara yang berkualitas. Jika kita ingin dunia yang lebih baik, semuanya dimulai dari rumah, beri cukup cinta dan beri cukup nutrisi,” ujarnya dalam Live Podcast Boostopia by Expertboost di PIM 1, Sabtu (7/2/2026). 

Persoalan hidden hunger juga berkaitan erat dengan tantangan gizi anak yang lebih luas. Hampir satu dari lima balita di Indonesia masih mengalami stunting, kondisi yang dapat menghambat pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta kesiapan anak menghadapi masa depan. 

Situasi ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap kualitas nutrisi sama pentingnya dengan kuantitas makanan yang dikonsumsi anak.

1770533048-Live-Podcast-Boostopia.jpegBoostopia Live Podcast menghadirkan dr. Mesty Ariotedjo dan Nikita Willy. (Urbanasia)

Di tengah kompleksitas tersebut, edukasi nutrisi yang relevan dengan keseharian keluarga menjadi kunci. Bukan hanya lewat teori, tetapi juga melalui pendekatan yang mudah dipahami oleh anak dan orang tua. 

Salah satunya hadir melalui Boostopia, playground edukatif yang mengajak anak mengenal peran vitamin dan mineral lewat pengalaman bermain interaktif. 

Digelar pada 5–8 Februari 2026 di Street Gallery Pondok Indah Mall, ruang ini dirancang sebagai sarana belajar sambil bermain yang menekankan pentingnya nutrisi dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Selain anak, orang tua juga diajak terlibat dalam percakapan soal gizi dan pertumbuhan. Melalui sesi diskusi dan live podcast bersama para ahli, berbagai aspek penting seputar nutrisi dan kesehatan anak dibahas secara terbuka. 

Nikita Willy, yang turut terlibat dalam inisiatif ini, mengakui bahwa memastikan anak mendapatkan nutrisi yang tepat sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua.

“Sebagai seorang ibu, aku menyadari bahwa urusan nutrisi anak sering kali jadi perhatian dan kekhawatiran. Kita ingin memberikan yang terbaik, tapi dihadapkan pada begitu banyak informasi. Karena itu, aku memilih pendekatan yang berbasis riset dan rekomendasi para ahli agar kebutuhan nutrisi anak bisa terpenuhi dengan lebih optimal,” ungkap Nikita.

Upaya melengkapi nutrisi anak juga perlu dibarengi dengan pemantauan tumbuh kembang secara rutin. Melalui Expert Zone, orang tua dapat berkonsultasi langsung dengan dokter anak serta melakukan cek tumbuh kembang yang terintegrasi dengan aplikasi Tentang Anak.

Pendekatan ini menegaskan bahwa pemantauan nutrisi dan pertumbuhan anak seharusnya dapat dilakukan secara mudah dan berkelanjutan.

Isu gizi anak tidak bisa lagi dilihat sekadar dari apakah anak sudah makan atau belum. Di balik rasa kenyang, ada kebutuhan nutrisi mikro yang menentukan kualitas tumbuh kembang anak hari ini dan masa depannya kelak.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait