menu
user
URnews

BMKG: Potensi Hujan Es di Yogyakarta Masih Akan Terjadi

Nivita Saldyni,
sekitar 2 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
BMKG: Potensi Hujan Es di Yogyakarta Masih Akan Terjadi
Image: Ilustrasi hail atau hujan es. (Pixabay/Maraisea)

Yogyakarta - Urbanreaders, masih ingat dengan peristiwa hujan es di sejumlah wilayah di Yogyakarta yang menghebohkan media sosial, Rabu (3/3/2021) lalu?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisikan (BMKG) Yogyakarta menyebut potensi hujan es serupa bakal masih terjadi hingga musim pancaroba berakhir atau April.

"Betul, terpantau telah terjadi hujan es di Kecamatan Turi (Sleman) dan Kota Yogyakarta," kata Kepala Stasiun Klimatologi Sleman, Reni Kraningtyas lewat keterangan tertulis di Yogyakarta, dikutip Jumat (5/3/2021).

"Ke depan potensi hujan es masih akan terjadi hingga berakhirnya masa pancaroba," imbuhnya.

Reni menjelaskan terjadinya hujan es atau yang sering disebut hail ini terjadi karena hasil dari pertumbuhan awan Cumulonimbus. Hujan es ini sifatnya lokal dengan jangkauan hanya 2 km.

"Hujan es ini sifatnya sangat lokal (radius 2 km) yang disebabkan oleh pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) lebih dari 10 kilometer," jelasnya.

Lebih tepatnya, hal ini terjadi saat udara hangat, lembab, dan labil di permukaan bumi akan menghasilkan pengaruh pemanasan bumi yang intensif akibat radiasi matahari. Kemudian hal ini akan mengangkat massa udara tersebut ke atmosfer yang kemudian mengalami pendinginan. Setelah terjadi kondensasi, maka akan terbentuk titik-titik air yang terlihat sebagai awan Cb.

"Karena kuatnya energi dorongan ke atas saat terjadi proses konveksi maka puncak awan sangat tinggi hingga sampai freezing level," imbuhnya.

Nah saat itulah kemudian kristal-kristal es dengan ukuran yang cukup besar terbentuk. Kemudian saat awan sudah masak dan tidak mampu menahan berat uap air, terjadilah hujan lebat disertai es seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.

"Es yang turun ini bergesekan dengan udara sehingga mencair dan ketika sampai permukaan tanah ukurannya lebih kecil," jelasnya.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait