Koleksi Geometris ‘Mandala’ Karya Made Wianta Menggema dalam Pameran Eksklusif

Bali - Seri Mandala karya mendiang Made Wianta kembali dihadirkan ke ruang publik lewat pameran Gallery of Art: Wianta & Legacy yang dibuka sejak 23 Januari 2026 di Pendopo Lobby The Apurva Kempinski Bali.
Pameran ini menandai upaya berkelanjutan dalam merawat ingatan kolektif atas warisan seni rupa Indonesia, khususnya dari salah satu tokoh penting seni kontemporer Bali.
Melalui Mandala, Made Wianta menghadirkan bahasa visual yang khas: komposisi geometris, garis dan titik yang berulang, serta ruang yang disusun ritmis.
General Manager The Apurva Kempinski Bali, Vincent Guironnet menuturkan, karya-karya ini tidak sekadar tampil sebagai bentuk estetika, tetapi juga sebagai refleksi kosmologi Bali yang memandang alam semesta sebagai sistem yang saling terhubung dan seimbang.
“Kami merasa sangat terhormat dapat menampilkan karya warisan Bapak Made Wianta, terlebih karena ini adalah pertama kalinya dalam sejarah panjang kariernya seri Mandala dipresentasikan secara lengkap kepada publik,” ujarnya.
Vincent menambahkan, pelestarian seni dan budaya Indonesia telah menjadi bagian dari identitas The Apurva Kempinski Bali.
Made Wianta (1949–2020) dikenal sebagai figur transformatif dalam seni rupa Bali. Lahir di Tabanan, ia berani keluar dari pakem tradisi klasik dan membawa seni Bali memasuki dialog modern tanpa tercerabut dari akarnya.
Pengalamannya bermukim di Eropa pada 1970-an memperkaya perspektifnya, yang kemudian berpadu dengan pemahaman mendalam atas seni wayang dan musik karawitan Bali.
Sebelas karya Mandala yang dipamerkan kali ini merupakan bagian dari fase penting perjalanan kreatifnya. Terinspirasi dari konsep Pangider-ider—sembilan Dewa penjaga arah mata angin—Wianta memaknai Mandala sebagai rancangan organisasi semesta yang utuh.
Bentuk melingkar dalam karyanya merepresentasikan keseimbangan antara dunia luar dan ketenangan batin, sebuah harmoni yang dapat dirasakan lintas latar budaya.
Pameran ini juga menghadirkan dialog lintas generasi melalui kehadiran Intan Kirana Wianta, istri mendiang Made Wianta, bersama kedua putrinya.
Sosok Intan dikenal memiliki peran penting dalam menjaga dan meneruskan warisan pemikiran sang seniman, sekaligus menjembatani seni, pendidikan, dan nilai-nilai kebudayaan.
Dimensi artistik pameran diperluas lewat pertunjukan koreografer kontemporer Bali, Ayu Anantha, yang menerjemahkan gagasan Mandala ke dalam bahasa tubuh. Pertunjukan ini mempertemukan seni rupa dan seni gerak, menghadirkan dialog hidup antara karya visual dan ekspresi performatif.
Gallery of Art: Wianta & Legacy dibuka untuk umum di Pendopo Lobby The Apurva Kempinski Bali mulai 23 Januari 2026, menjadi ruang kontemplasi atas warisan Made Wianta yang terus relevan dalam wacana seni dan budaya Indonesia hari ini.
