beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URtainment

Festival Musikal Indonesia Dicanangkan Kenalkan Sendratari untuk Generasi Muda

Shelly Lisdya,
8 Juni 2022 14.01.23 | Waktu baca 3 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Festival Musikal Indonesia Dicanangkan Kenalkan Sendratari untuk Generasi Muda
Image: Festival Musikal Indonesia. (Instagram)

Jakarta - Agustus nanti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) bakal menyelenggarakan Festival Musikal Indonesia (FMI).

Festival yang bekerja sama dengan Yayasan Eksotika Karmawibhangga Indonesia bakal digelar pada 20 dan 21 Agustus 2022 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.

Festival ini nantinya akan melibatkan tujuh grup musikal Tanah Air, seperti Artswara, EKI Dance Company, Flodanzoka, Jakarta Movin, Kampus Betawi, Swargaloka dan Teman Production.

FYI nih guys, FMI merupakan sebuah program baru dari Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Kemendikbudristek bekerjasama dengan Yayasan Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI). 

Festival ini bertujuan untuk memperkenalkan seni pertunjukan atau musikal Indonesia kepada masyarakat melalui pentas panggung, pameran, dan kegiatan lainnya.

Direktur Perfilman, Musik, dan Media, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Ahmad Mahendra menyebutkan, FMI sangat baik untuk kelokalan masyarakat. 

"Yuk, kita rangkul semuanya sehingga menjadi sesuatu yang baru. interpretasi baru tapi tetap dalam konteks lokal. Ilmunya boleh dari luar (negeri), boleh saja, tapi menjadi keindonesiaan itu sangat penting,” kata Mahendra, dikutip Antara, Rabu (8/6/2022).

Mahendra menambahkan, pertunjukan musikal acapkali dikenal oleh masyarakat berasal dari Inggris dan Amerika. Hanya saja, seni yang menggabungkan unsur musik, akting, dan tari ini juga telah muncul dalam pentas tradisional seperti wayang kulit, lenong Betawi, ludruk, opera Batak, dan sebagainya.

Menurutnya, ilmu pengetahuan mengenai seni pertunjukan dari luar negeri boleh saja diserap namun nilai kelokalan seyogianya tidak boleh hilang ketika diadaptasi menjadi suatu karya baru.

Ia juga mencontohkan bagaimana pementasan monolog ‘Inggit Garnasih’, seri ‘Di Tepi Sejarah’, atau program Sandiwara Sastra dalam bentuk siniar (podcast) yang belum lama ini diluncurkan mampu menarasikan sejarah dengan kemasan yang baru.

“Itu adalah misi kami sehingga cerita-cerita itu (dapat) masuk dan didengar generasi muda,” lanjutnya.

Mahendra pun mengaku pihaknya mendukung gelaran FMI yang digerakkan oleh para seniman dan pelaku budaya. Hal tersebut, kata Mahendra, sejalan dengan yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Senada, Kapokja Apresiasi dan Literasi Musik Direktorat Perfilman, Musik dan Media Kemendikbudristek Edi Irawan juga mendorong agar seluruh pihak bekerja sama untuk memajukan dan memperkuat ekosistem seni musikal melalui gelaran FMI.

“Mudah-mudahan ini (FMI) juga mendapat simpati dan minat dari masyarakat yang sudah sangat merindukan bahwa karya-karya besar akan lahir,” katanya.

Sementara musisi sekaligus penulis sekaligus Produser di FMI, Reda Gaudiamo mengatakan, diadakannya festival ini guna memperkenalkan lagi sendratari (seni drama dan tarian) kepada generasi muda.

Apalagi, tema FMI ini mengangkat tentang sejarah Indonesia. Para penampil nantinya akan membawakan naskah terkait sejarah bangsa, baik tokoh maupun peristiwa.

"Kami merasa generasi muda harus tahu juga bahwa Indonesia punya kisah panjang tentang sendratari jadi kenapa nggak sekalian kita hadirkan (festival ini)," pungkasnya.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait