Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URtainment

Film 'Selesai' Tuai Kritik, Ini Tanggapan Tompi Selaku Sutradara

Dyta Nabilah,
sekitar 2 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Film 'Selesai' Tuai Kritik, Ini Tanggapan Tompi Selaku Sutradara
Image: Tompi. (Instagram @dr_tompi)

Jakarta - Tompi baru saja merilis film bertajuk ‘Selesai’ yang dibintangi oleh Gading Martin, Ariel Tatum, dan Anya Geraldine. Namun, ramai penonton yang mengkritik alur cerita dari film tersebut mengenai masalah rumah tangga yakni perselingkuhan.

Menanggapi hal ini, Tompi pun menjawabnya dengan tegas melalui siaran langsung di Instagram. Menurutnya, ia membuat film bukan untuk dinilai orang lain.

“Saya bukan bikin film buat dinilai. Bukan bikin film buat pengakuan dari si A si B si C, orang-orang tertentu. Belum tentu juga mereka punya ilmunya. Yang tadi saya bilang, orang makan tempe lo kasih keju nggak bakal nyambung juga, jadi biarin aja,” jawab Tompi.

Dari jawaban tersebut, Tompi dianggap tidak menerima kritik dari penonton. Menurut salah satu netizen, itu merupakan hak mereka untuk menilai. Mereka sudah mengeluarkan uang untuk film tersebut di layanan streaming online.

“Yang gue pikir sih, begitu lo niat nayangin film untuk di tonton netijen nih! Ya lo harus siap dengan segala feedback. Jadi hak netijen dong untuk menilai, kan mereka BAYAR. Biar kan karya yang berbicara bukan Tompi yang sibuk berbicara,” tulis netizen di Twitter.

Saat sesi tanya jawab lewat siaran langsung bersama Imam Darto dan @cinemalinea melalui Twitter Spaces, Tompi menjawab berbagai kritikan netizen mulai dari isu kesehatan mental hingga penokohan perempuan.

Dalam film 'Selesai', tokoh perempuan memiliki masalah kesehatan mental yang kurang jelas detailnya. Tompi pun menjawab pertanyaan mengenai tidak terlibatnya Psikolog atau Psikiater ketika proses kreatif karena dirinya juga seorang dokter yang pernah mempelajari tentang psikiatri.

“Kalo lo menggambarkan ini gila, salah ini bukan gila, ini bukan skizofren yang mau gue gambarkan di sini, kalo skizofren nggak begini,” terang Tompi pada Kamis (19/8/2021).

Ia mengembalikan lagi ke penonton bagaimana mereka menilai adegan maupun penokohan pada film 'Selesai'. Namun, Tompi kurang suka apabila ada kritik yang terlalu nyolot.

“Gue lempar balik ke orang-orang sih. Balik lagi, gue itu nggak pernah keberatan orang mengkritisi. Tapi once lo kritiknya nyolot, udah gitu salah, istilahnya gini udah bodoh sombong. Nah ini yang jadi masalah,” lanjut Tompi.

Ia menegaskan juga bahwa masalah kesehatan mental yang digambarkan tersebut memang dekat dengan banyak orang. Tak hanya itu, hal tersebut pun memiliki pertanggungjawaban secara medis.

“Secara medis ini bisa dipertanggungjawabkan. Jadi bukan ngarang, dan bukan skizofren,” kata Tompi. “Ini lebih ke depressed,” sambungnya.

Selain tak melibatkan tenaga kesehatan mental, Tompi juga tidak mengajak perempuan dalam diskusi naskah. Ia hanya menuliskannya bersama Imam Darto saja karena melihat dari lingkungan sekitar dan cerita-cerita orang.

“Apakah dalam proses pengembangan script ini melibatkan perempuan atau nanya perspektif perempuan? Gue bilang enggak harus juga sih. Karena researchnya itu dari hal-hal lain, maksudnya enggak harus dari segi ilmu kejiwaan, dari pengamatan fakta sosial, dan perselingkuhan ini bukan tema yang khusus jarang orang ketemu,” tutur Tompi.

Meski begitu, masih ada netizen yang heran melihat jawaban lugas dari Tompi yang tak membutuhkan perspektif perempuan. Padahal, film ‘Selesai’ memiliki tokoh perempuan yang juga kuat. 

“Tompi masih kekeuh kalo dia gak butuh sudut pandang perempuan saat pembuatan film Selesai. Baru aja tadi sore ngetwit The Dunning-Kruger Effect ini. Tompi ada di fase mana nih?” tanya netizen.

Pernyataan Tompi lain yang menjadi perbincangan netizen yakni mengenai cara berpikir orang melihat perempuan seksi yang tidak bisa dikontrol.

“Sekarang secara harfiahnya, secara biologisnya orang, kalo ngeliat cewek seksi kira-kira laki-laki yang nggak punya pelampiasan bakal tergoda nggak berbuat yang enggak-enggak? Iya kan?” ungkap Tompi.

Tentunya, pernyataan tersebut mengundang reaksi netizen. Mereka merasa Tompi generalisasi laki-laki tak punya akal sehat untuk menahan hawa nafsunya.

“Mon maap dr Tompi mau tanya, emang laki-laki ga punya akal sehat untuk menahan godaan ya?” tanya netizen.

Tetapi, Tompi terus menitikberatkan terhadap penilaian orang terhadap film 'Selesai' yang katanya menyudutkan perempuan. Padahal, Tompi menjelaskan bahwa ia melihat dari fakta-fakta yang ada saja.

Tujuan Tompi dalam pembuatan film ini tidak ada kaitannya dengan seksisme. Ia hanya ingin menggambarkan fenomena yang biasa terjadi di dunia nyata tentang laki-laki yang berselingkuh, perempuan menjadi korban, dan sebagainya.

“Jadi tujuan film itu bukan untuk mendiskreditkan perempuan. Di situ memang kita anglenya ingin menceritakan ini loh ada kejadiannya begini,” kata Tompi.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait