Hot News

Newcastle upon Tyne - Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman, selangkah lagi bisa menguasai Newcastle United. Tapi, akuisis itu diganggu isu seputar pelanggaran HAM olehnya.

Mohammed bin Salman melalui Public Investment Fund (PIF) yang merupakan perusahaan miliknya dalam proses akuisisi Newcastle. Dana sebesar 300 juta paun bakal disetorkan ke rekening Mike Ashley sebagai pemilik Newcastle saat ini.

Nantinya, Salman yang merupakan putra mahkota kerajaan Arab Saudi itu akan menguasai 80 persen saham Newcastle. Dengan adanya sokongan dana dari Salman, Newcastle bisa jadi kekuatan baru di persepakbolaan Inggris.

Meski demikian, kabar pembelian Newcastle oleh Pangeran Salman itu mendapat sorotan besar dari publik. Ini tak lepas dari pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan keluarga kerajaan Arab Saudi.

Organisasi pembela HAM, Amnesty International, bahkan sudah mengirim surat kepada Premier League untuk bisa menahan proses akuisisi itu karena Salman dan keluargnya masih bermasalah dengan pelanggaran HAM.

Tentu publik ingat kasus jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi, yang dibunuh di Turki pada 2018 karena kerap melakukan kritik kepada pemerintah kerajaan.

Tunangan mendiang Jamal Khashoggi, Hatice Cengiz, yang kini memperingatkan Premier League terkait pembelian Newcastle tersebut. Menurut Cengiz, pembelian Newcastle hanyalah akal-akalan Pangeran Salman agar namanya bersih lagi usai kasus pembunuhan itu.

"Otoritas Inggris dan Premier League seharusnya tak mengizinkan seseorang seperti Bin Salman, yang belum menghadapi pertanggungjawaban atas pembunuhan tunangan saya, untuk terlibat dalam olahraga di Inggris. Itu akan sangat menodai reputasi Premier League dan Inggris," tutur Cengiz seperti dikutip Daily Mail.

"PBB dan CIA menyimpulkan jika Bin Salman yang memerintahkan pembunuhan terhadap Jamal. Saya sangat mendesak pemerintah Inggris dan Premier League untuk campur tangan dan menghentikan pembelian Newcastle United," sambungnya.

Duh, ada-ada saja.


Loading ..