menu
user
URnews

Jangan Komentar Sembarangan di Medsos, Polisi Siber Mengintai

Shelly Lisdya,
20 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Jangan Komentar Sembarangan di Medsos, Polisi Siber Mengintai
Image: Ilustrasi kolom komentar. (pixelcreatures/CC0 1.0)

Jakarta - Maraknya penyebaran berita atau informasi hoax di media sosial, memicu keresahan warga. Nah, dalam memerangi konten tersebut, pemerintah telah membentuk Polisi Cyber (polisi siber).

Pembentukan Polisi Siber dan Polisi Virtual sendiri sesuai dengan Surat Edaran (SE) Nomor 2/2/II/2021. Pun ada tiga argumentasi diciptakannya Polisi Siber, yakni serangan digital dan kejahatan cyber yang kian masif, penyebaran hoax dan disinformasi serta penyebaran ujaran kebencian dan SARA di media sosial

Salah satu berita yang belum dipastikan oleh pihak kepolisian adalah terduga pelaku pengeboman yang menyerang Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu (28/3/2021).

Namun, banyak netizen di media sosial yang sudah menyebut agama menjadi salah satu tujuan utama terduga pelaku pengeboman Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan.

"Pasti bakal ada yg ngoceh, tolong kejadian di bom bundir Gereja Katedral Makassar jangan dikaitkan dengan agama manapun, teroris gak punya agama! Ini bentuk denial, coba cek pelakunya beragama apa? siapa tau  penyembah kerang ajaib," tulis salah satu akun pengguna Twitter.

Sontak, postingan tersebut mendapat cibiran dari netizen lainnya.

"Yang harus disalahkan itu pelakunya bukan agamanya. Menurutku teroris bukan beragama islam, namun bisa jadi ada yang beragama islam. Islam sendiri juga mengajarkan Rahmatan Lil'allamin, namun aku gatau teroris yang dianggap beragama islam tersebut kitab apa yang dipelajari," komentar netizen.

"Perlu di cek, jgn seenaknya aja bicara??? Sebagai salah satu majelis agama tertinggi di negara ini seharusnya jgn menyampaikan kata2 yg bisa di salah artikan. Bisa2 masyarakat salah mengartikan. Sebenarnya agama mana yg membenarkan membunuh agama lain bs msk surga?? KOPLAK," tambah netizen.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta agar peristiwa ledakan yang diduga bunuh diri tidak dikaitkan dengan agama ataupun suku tertentu.

"MUI meminta supaya masalah ini jangan dikait-kaitkan dengan agama atau suku tertentu di negeri ini karena hal demikian akan semakin membuat keruh suasana," kata Wakil Ketua Umum MUI K H Anwar Abbas, seperti dikutip dari ANTARA.

Menurutnya, tidak ada satu pun agama yang mengajarkan kekerasan, apalagi terorisme. Sejatinya semua agama mengajarkan kasih sayang dan kemanusiaan kepada sesama.

Dengan adanya Polisi Siber ini, mereka akan mengirim pesan berupa direct massage (DM) berupa peringatan. Nantinya, dalam pesan tersebut disampaikan bahwa konten itu mengandung pelanggaran atau hoax.

Pesan peringatan tersebut dikirimkan dua kali ke akun yang diduga mengunggah konten hoax atau ujaran kebencian. Dalam waktu 1x24 jam maka konten tersebut harus diturunkan.

Apabila postingan di media sosial yang diduga mengandung pelanggaran atau hoax tersebut tidak diturunkan pemilik akun, penyidik akan memberikan peringatan kembali. Kemudian apabila peringatan kedua tidak digubris, maka akan ditingkatkan ke tahap pemanggilan untuk dimintai klarifikasi.

Terkait dengan pemberitaan dugaan bom bunuh diri di Makassar, kini penyidik masih melakukan evaluasi terkait sejumlah penangkapan terduga teroris belakangan ini.

"Kalau sudah ada jawaban dan apakah ada kaitannya dengan yang ini (ledakan bom di Makassar), nanti kan bisa menemukan setelah kami sudah mendapatkan data," Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono dalam keterangan pers.

Urbanreaders, kamu harus berhati-hati dalam berkomentar serta harus bijak dalam memilah berita yang telah dipublish ya. Jangan sampai kamu mendapat peringatan dari polisi cyber.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait