menu
user
URsport

Ketum PBSI: BWF Tidak Salah, Ada yang Takut Kekuatan Indonesia

Rezki Maulana,
25 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Ketum PBSI: BWF Tidak Salah, Ada yang Takut Kekuatan Indonesia
Image: Ketum PBSI Agung Firman Sampurna merasa Indonesia diberlakukan tidak adil. (IG @badminton.ina)

Jakarta - Ketum PBSI, Agung Firman Sampurna, sedih Indonesia harus mundur dari All England 2021. Menurut Firman, ini bukan kesalahan mutlak dari Federasi Bulutangkis Dunia (BWF).

Indonesia dipaksa mundur karena diawali laporan adanya satu penumpang Turkish Airlines dari Istanbul ke Birmingham, Sabtu (13/3) lalu yang terinfeksi COVID-19.

Namun, tidak diberikan informasi mengenai siapa, berapa orang, dan dari mana asal orang yang positif COVID-19 tersebut.

Nah, aturan Pemerintah Inggris mengharuskan jika ada kasus seperti ini, maka semua orang yang berada satu pesawat harus dikarantina minimal 10 hari, sehingga tim diharuskan mundur dari turnamen.

Indonesia dalam hal ini PBSI pun terkejut dengan keputusan BWF ini. Meski demikian, BWF memang tak bisa berbuat apapun karena ini adalah aturan dari Pemerintah Inggris selaku negara tempat turnamen berlangsung.

Maka dari itu PBSI tidak mau menyalahkan BWF sepenuhnya karena ada andil dari Pemerintah Inggris dalam hal ini National Health Security (NHS).

Diketahui, Inggris memang sangat ketat melakukan protokol kesehatan, karena masih tingginya angka penularan COVID-19 di negara itu.

Menurut Agung, ada yang takut dengan kekuatan dengan Indonesia di turnamen. Apalagi di babak awal, Indonesia sudah meloloskan tiga wakilnya ke babak kedua, termasuk, dua ganda putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon.

"BWF tidak ada masalah. Ini aturan negara setempat. Yang kami ingin transparasi karena BWF tidak ada masalah. Mereka objektif dan profesional. Mereka sudah melakukan yang diperlukan, bagaimana supaya turnamen ini dilaksanakan," ujar Agung dalam jumpa pers virtual, Kamis (18/3/2021) siang WIB.

"Kami sudah diisolasi, anak-anak sudah divaksin seluruhnya. Kami menyampaikan kekecewaan yang besar tapi pada saat yang sama kami juga paham, ini karena potensi dan kemampuan tim bulutangkis Indonesia ada dalam kondisi terbaik," sambungnya.

"Jadi kalau saya katakan dengan persiapan sekarang dengan PBSI yang saya pimpin saat ini memang salah satu jalan membuat Indonesia tidak bisa juara yang tidak boleh bertanding. Karena kalau kita bertanding adalah pemain yang berbahaya, dan kita adalah kandidat juara salah satu yang paling kuat yang sudah mengalahkan Inggris," bebernya.

"Ini lah situasinya, fakta-faktanya. Masih dilakukan komunikasi, Anda bisa bayangkan kita yang sudah divaksin tiba-tiba bukan tidak boleh ikut bertanding, kita juga diminta untuk diisolasi 20 hari, saya kurang paham. Ini diskriminatif atau tidak, kalau tidak boleh bertanding ya sudah pulang saja, kalau begitu. Kan itu seharusnya," dia menegaskan.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait