beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URtech

Kominfo Tanggapi Dugaan Kebocoran Data IndiHome

Shinta Galih,
sekitar 2 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Kominfo Tanggapi Dugaan Kebocoran Data IndiHome
Image: Ilustrasi data. (Pixabay)

Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengaku tengah melakukan pendalaman atas laporan dugaan kebocoran data pelanggan IndiHome.

Hal tersebut diungkap oleh Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Semuel A Pangerapan. Dia turut mengungkap Kementerian Kominfo akan segera melakukan pemanggilan terhadap manajemen Telkom untuk mendapatkan laporan dan langkah tindak lanjut terkait dugaan insiden tersebut.

"Kementerian Kominfo akan segera mengeluarkan rekomendasi teknis untuk peningkatan pelaksanaan pelindungan data pribadi Telkom, dan di saat bersamaan berkoordinasi dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN)," ujar Samuel, Minggu (21/8/2022).

Sebelumnya diberitakan data pelanggan IndiHome diduga bocor dan diperjualbelikan di situs forum hacker bernama Bjorka. 

Informasi dugaan kebocoran data pelanggan IndiHome ini diungkap oleh Pengamat Kemanan Siber Teguh Aprianto. Dia menyebutkan bahwa data yang dijajakan berisikan 26 juta histori pencarian, berikut keyword, user info mencakup email, nama, jenis kelamin, hingga NIK milik pelanggan.

"Tahun 2020 kemarin kita berhasil menekan @IndiHome untuk mematikan tracker milik mereka yang selama ini digunakan untuk mencuri browsing history milik pelanggan. Sekarang 26 juta browsing history yang dicuri itu bocor dan dibagikan gratis. Ternyata berikut dengan nama dan NIK," tulis Teguh di akun Twitternya.

"Contohnya di baris pertama, mas-mas ini kebetulan lagi buka bokep lalu browsing historynya dicuri dan diidentifikasi nama, jenis kelamin dan juga NIK miliknya dari data pelanggan. Bayangin kalau ini digunakan untuk mempermalukan seseorang," lanjutnya.

Dalam utasannya, Teguh menilai kebocoran data ini bisa mempermalukan seseorang jika browsing history-nya diketahui orang yang tak bertanggung jawab.

"Jika kebetulan ada pelanggan yang ketahuan sedang buka film dewasa, lalu browsing history-nya dicuri serta diidentifikasi nama, jenis kelamin dan juga NIK miliknya dari data pelanggan, ini bisa digunakan untuk mempermalukan seseorang," kata Teguh.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait