Hot News
URstyle

Mengenal Sleeping Beauty Syndrome, Pembuat Bayi Shaka Tidur Setahun

Nunung Nasikhah,
19 Juli 2020
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Mengenal Sleeping Beauty Syndrome, Pembuat Bayi Shaka Tidur Setahun
Image: Ilustrasi sleeping beauty syndrome. (Pixabay)

Jakarta – Belakangan ini, netizen dihebohkan dengan video TikTok yang menunjukkan penampakan bayi lucu tengah tidur.

Sayangnya, bayi tersebut bukan tengah tidur siang yang hanya beberapa jam, namun telah tidur selama satu tahun. Video tersebut dibuat oleh seorang Ibu di Madura, Jawa Timur.

Menurut informasi, bayi bernama “Shaka” tersebut mulai tidur sejak usia 8 bulan dan belum bangun hingga sekarang, saat usianya sudah menginjak 18 bulan.

Karena tertidur lama, bayi Shaka juga belum mampu melakukan aktivitas seperti anak-anak lain pada umumnya.

Dokter juga telah mendiagnosis bahwa Shaka mengidap “Sleeping Beauty Syndrome” (Sindrom Putri Tidur) yang dalam dunia medis disebut “Klein-Levin Syndrome” (KLS).

KLS yang merupakan kelainan neurologis ini mampu membuat pengidapnya tidur hingga lebih dari 20 jam sehari, seperti dalam cerita sleeping beauty atau putri tidur.

Penyakit satu ini terbilang cukup langka. Diperkirakan hanya ada sekitar 1000 orang yang mengidap penyakit ini di dunia.

Karena sangat jarang ditemui, penyebab penyakit satu ini belum diketahui secara pasti hingga saat ini. Namun, gejala-gejala pada sindrom ini mengindikasikan adanya malfungsi kerja bagian hipotalamus dan talamus pada otak atau bagian dari otak yang mengatur nafsu makan, suhu tubuh dan tidur.

Melansir informasi dari healthline (19/7/2020), beberapa dokter percaya bahwa faktor-faktor tertentu dapat meningkatkan risiko terkena penyakit langka ini.

Misalnya, KLS mungkin timbul dari cedera di hipotalamus karena terjatuh dan mengenai kepala. Namun, masih perlu lebih banyak penelitian untuk mengonfirmasi kemungkinan tersebut.

Di samping itu, beberapa orang mengidap KLS setelah mengalami infeksi seperti flu. Karena itu, beberapa peneliti percaya bahwa KLS mungkin merupakan jenis gangguan autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehatnya sendiri.

Beberapa kasus KLS juga disebut memiliki kemungkinan disebabkan oleh faktor genetik. Ada kasus di mana gangguan tersebut mempengaruhi lebih dari satu orang dalam sebuah keluarga.

KLS ini dapat menyerang siapa saja. Namun, laki-laki mengalami kondisi ini lebih banyak dibanding perempuan. Sekitar 70 persen orang dengan gangguan ini merupakan laki-laki.

Penyakit satu ini memiliki episode tidur dan bangun yang tak biasa. Terkadang penderitanya bisa tidur atau bangun selama 10 tahun. Selama setiap episode tersebut, penderitanya mungkin sulit untuk bersekolah, bekerja, atau aktif dalam kegiatan lain.

Orang yang hidup dengan KLS kemungkinan tidak mengalami gejala setiap hari. Gejala umum yang sering terjadi adalah munculnya rasa kantuk yang cukup ekstrem atau ada keinginan kuat untuk tidur dan sulit bangun di pagi hari.

Selama satu episode, penderita KLS tidak jarang tidur hingga 20 jam sehari. Ia bahkan bisa hanya bangun untuk ke kamar mandi dan makan, lalu kembali tidur.

Selain itu, dalam setiap episode yang dialami juga dapat memicu gejala lain. Misalnya seperti berhalusinasi, disorientasi, lekas marah, nafsu makan meningkat hingga dorongan seks yang berlebihan. Hal tersebut dapat terjadi akibat berkurangnya aliran darah ke bagian otak selama suatu episode.

KLS adalah kondisi yang tidak dapat diprediksi. Episode dapat berulang tiba-tiba dan tanpa peringatan minggu, bulan, atau tahun selanjutnya.

Meski tertidur cukup lama, kebanyakan penderita KLS dapat melanjutkan aktivitas normal setelah episode berlalu tanpa disfungsi perilaku atau fisik.

Hanya saja, mereka bisa jadi memiliki sedikit memori tentang apa yang terjadi selama menjalani episode tertidurnya.
 


Loading ..