menu
user
Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URguide

Misteri Kejinya Tumbal Proyek sebagai Pelancar Pembangunan

Anisa Kurniasih,
23 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Misteri Kejinya Tumbal Proyek sebagai Pelancar Pembangunan
Image: Potret sebuah bangunan apartemen di Surabaya (Nivita/Urbanasia)

Jakarta - Dalam sebuah proyek pembangunan rupanya tak lepas dari kisah misteri yang kerap menjadi perbincangan. Mitos soal tumbal pun seringkali dikati-kaitkan dengan kelancaran proses proyek pembangunan kecil maupun besar. 

Cerita mengenai tumbal yang konon menjadi syarat pondasi bangunan pun nampaknya kini menjadi urban legend yang terdengar dari mulut ke mulut.

Konon, tumbal berupa potongan kepala menjadi sebuah persembahan wajib bagi mereka yang terikat perjanjian dengan makhluk gaib agar membantu kelancaran proyek pembangunan yang sedang dijalankan.

Meski masih dianggap tabu, namun menurut Praktisi Supranatural  Ki Geni Seketi hal itu benar adanya.

Berdasarkan pengalamannya lima tahun lalu, Ki Geni bercerita jika dirinya sempat menangani kasus perjanjian tumbal seseorang di sebuah proyek pembangunan sebuah pabrik perusahaan ternama di kota S yang berujung mala petaka.

Menurut cerita Ki Geni, seseorang tersebut mengatakan jika kerap terjadi tragedi kecelakaan kerja yang mengerikan menimpa para pekerja proyek di tempat itu. Padahal, tidak ada faktor keteledoran atau kelalaian dari segi keselamatan kerja yang diabaikan.

Dari situ, muncullah kecurigaan dari sejumlah orang  yang akhirnya mengkaitkan kejadian tersebut dengan tragedi tumbal.

Ki Geni pun akhirnya dimintai pertolongan untuk datang dan melihat lokasi serta membaca situasi tersebut dari sisi supranatural. 

“Mereka meminta saya untuk mencari tahu penyebab tak masuk akal yang kerap terjadi di tempat tersebut dan akhirnya saya pun mencoba melakukan penelusuran,” cerita Ki Geni kepada Urbanasia, Kamis (15/4/2021).

Dari situ, Ki Geni langsung menyusuri tiap sudut di lokasi tersebut untuk memecahkan kejanggalan, hingga akhirnya ia berhasil menemukan sebuah ruangan yang mecurigakan.

Setelah mencari tahu lebih dalam, Ki Geni memastikan bahwa tempat tersebut adalah lokasi untuk melakukan pemujaan dan ritual di waktu-waktu tertentu yang digunakan oleh seseorang.

Singkat cerita, rupanya ada seorang bos dari proyek tersebut yang sempat melakukan persembahan pemotongan kepala kerbau demi kelancaran proyek pembangunan tersebut.

“Dulunya tempat itu jadi persembahan dan setelah saya cari tahu, memang ada persembahan 3 kepala kerbau yang dikubur di sudut-sudut lokasi pembangunan, namun ketika jabatan orang tersebut digantikan oleh lainnya, ritual pun berhenti,” kata Ki Geni.

1618480536-tumbal-kambing.jpegSumber: Ilustrasi tumbal kepala kambing sebagai wujud persembahan untuk makhluk halus (@kigeni666/Instagram)

Akhirnya, ketika kepemimpinan diganti orang lain, tiba-tiba banyak sekali tragedi mengerikan yang terjadi di tempat itu bahkan mengancam nyawa para pekerja. Namun hal itu tidak digubris oleh kepemimpinan baru yang membuat proyek tersebut seringkali terhambat.

Hingga pada akhirnya, pemimpin proyek yang baru tersebut mengalami kejadian mistis pada dirinya. Dari situlah ia sadar jika ada hal yang tidak beres terjadi pada proyek yang ia pimpin.

kemudian, Ki Geni pun melakukan pembersihan lokasi dan memutus perjanjian tumbal yang sudah terlanjur dilakukan oleh pemimpin sebelumnya. Dengan berbagai ritual dan proses cukup panjang, terputuskan ikatan tumbal tersebut. 

“Dalam setiap perjanjian pasti harus ada yang dikorbankan, apalagi ketika manusia menuntut sesuatu kesenangan secara instan kepada makhluk yang bukan semestinya. Makhluk halus kan suka darah, tulang, kotoran, jadi ketika tak ada persembahan untuk mereka, yang lainlah menjadi korban,” sambung Ki Geni.

Ki Geni menyatakan jika perjanjian tumbal sangat sulit untuk diakhiri apalagi jika yang bersangkutan sudah tidak ada. Ia pun berpesan kepada orang-orang yang ingin kekayaan atau kesenangan instan untuk berpikir dua kali agar tidak terjerumus risiko yang membahayakan.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait