URnews

Belajar dari Kemampuan AI, Merebut Kembali Dominasi Manusia

Firman Kurniawan S, Rabu, 28 Juni 2023 18.01 | Waktu baca 6 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Belajar dari Kemampuan AI, Merebut Kembali Dominasi Manusia
Image: Freepik

Jakarta - Reaksi, ‘manusia bakal tetap unggul dibanding teknologi’, nampaknya tak bisa terus dipertahankan. Terlebih ketika teknologi yang dibicarakan adalah artificial intelligence (AI0). Reaksi di atas memang jadi obat sementara dari kepanikan global, saat berbagai lembaga mengajukan prediksinya. Prediksi yang nampaknya bakal terwujud, kurang dari 5 tahun mendatang.

Pernyataan prediksi yang kerap diperbincangkan itu menyebut, jutaan jenis pekerjaan bakal punah. Sebagian besarnya digusur oleh AI. Namun dari penggusuran itu, bakal muncul jutaan jenis pekerjaan baru, sebagai gantinya. Beberapa di antaranya, bahkan sudah dilakukan hari ini. Seperti manusia sebagai mentor pembelajaran AI, pemecah sengketa keabsahan data, analis asal-usul data, dan masih banyak jenis pekerjaan lainnya.

Walaupun seluruhnya terbilang masih asing, namun hilang dan tumbuhnya pekerjaan itu bakal mendudukkan manusia sebagai tenaga kerja yang bertahan. Karenanya, boleh tak terlalu khawatir.

Hanya saja untuk keadaan yang mengandung optimisme itu, apakah proses pengalihannya bisa berlangsung serta merta? Pergantian dari pekerjaan lama ke pekerjaan baru dengan tetap melibatkan pekerja lama. Hanya perangkatnya saja yang baru? Atau pergantian itu menyebabkan perubahan total pelaku pekerjaan. Ini artinya, lewat proses yang didahului hilangnya pekerjaan sejumlah besar orang?

Optimisme ‘manusia sebagai pencipta keunggulan’ bersikukuh: manusia adalah mahluk yang sempurna. Kesempurnaan itu mengantarnya untuk terus bertahan, bagaimanapun keadaannya. Dan ini telah dibuktikan berjuta-juta tahun. Homo Sapiens bertahan lewat mekanisme adaptasi, saat terdesak oleh perubahan cuaca ekstrim maupun perubahan lainnya di alam semesta.

Senada dengan optimisme itu, Simplelearn.com, 2023, dalam artikelnya “Artificial Intelligence vs Human Intelligence”, menyebut ciri kesempurnaan yang dimiliki manusia. Disebutkannya, manusia punya kreativitas, pemikiran kritis, kecerdasan emosional, hingga perangkat pemecahan masalah yang kompleks. Seluruhnya ini, tak mudah disaingi AI. 

Namun atas seluruh argumentasi optimis di atas, peringatan bahaya tergusurnya manusia oleh AI, juga berserak di berbagai media. Di antaranya dinyatakan oleh Geoffrey Hinton, ilmuwan yang dikenal sebagai pengembang awal AI. Ia mengungkap penyesalan atas temuan yang dipeloporinya, lewat cuitan di akun twitter-nya. Kalimatnya juga dapat ditafsir sebagai peringatan bahaya AI, bagi masyarakat global.

Cerita tentang Hinton itu, termuat dalam tulisan ‘The Godfather of A.I.’ Leaves Google and Warns of Danger Ahead’, diedarkan NYTimes.com, Mei 2023. Juga pada tulisan, ‘Geoffrey Hinton, Pioneer of AI, Leaves Google and Says He ‘regrets’ His Invention’, yang hadir di newsinfrance.com, Juni 2023.  Dari 2 tulisan bertema pesimis ini, diuraikan kronologi temuan yang dikembangkan Geoffrey Hinton. Seluruhnya berangkat dari ilmu saraf dan psikologi. Bidang yang ditekuni peneliti asal Kanada-Inggris itu.

Dengan didukung oleh dua mahasiswanya dari Universitas Toronto, Kanada, di tahun 2012, Hinton berhasil menunjukkan keunggulan pemanfaatan temuannya yang meniru kerja otak. Terdapat pemanfaatan neural network sebagaimana cara kerja otak manusia, dalam unjuk kecerdasan AI. Kemajuan temuan ini, berhasil mengungguli algoritma pengenalan gambar yang terbaik. Atas pengembangan yang dilakukannya, Geoffrey Hinton menerima penghargaan Turing Prize, di tahun 2019. Penghargaan yang turut dinikmati bersama dengan dua perintis AI lainnya: Yann Le Cun dari Perancis dan Yoshua Bengio dari Kanada.

Sepuluh tahun kemudian, di tahun 2022, pengembangan dari karya yang dipelopori Hinton itulah yang dikembangkan sebagai AI percakapan, ChatGPT maupun Bard. Juga Midjourney, AI yang mampu membuat gambar. Namun alih-alih berbangga, Hinton justru mundur dari Google. Ia ingin leluasa mengingatkan potensi bahaya pengembangan AI yang sedang berlangsung, tanpa membahayakan posisi Google. Itulah suara nurani ilmuwan. Rela kehilangan kenikmatan, demi menyuarakan kebenaran.

Dalam pernyataannnya, Hinton mengungkap kemungkinan makin meningkatnya kecerdasan buatan di masa depan. Seluruhnya, agak menakutkan bagi manusia. Hari ini AI memang masih ada di tahap, tak lebih pintar dari manusia. Namun dalam jangkauan pengetahuannnya, AI yang terus berkembang itu bakal segera mengungguli manusia. Indikasinya sudah nampak. Gejala pembuatan video, foto, maupun artikel palsu yang diunggah ke internet, intensitasnya makin meningkat. Pada produk-produk informasi palsu itu, orang normal tak mampu membedakannya dari yang asli.

Di masa mendatang, urainya, kemampuan itu terus berkembang. Termasuk kemungkinan hadirnya robot-robot pemusnah yang sulit dikendalikan manusia. Dan ketika perangkat itu jatuh ke tangan yang salah, seperti pada diktator yang berkeinginan meningkatkan kekuasaan dengan menaklukkan manusia, petaka tak terhindarkan. Kekhawatiran Geoffrey Hinton ini, juga didasari maraknya persaingan berbagai perusahaan raksasa teknologi dunia berlomba mengembangkan AI.

Terlepas dari pandangan optimis versus pesimis soal kedudukan manusia di hadapan AI, seluruh kekhawatiran itu, sesungguhnya pengakuan atas keunggulan pembelajaran yang dicapai AI. Ini artinya, jika keunggulan itu dapat direplikasi manusia, dengan kesempurnaan yang dimiliki ditambah pembelajaran ala AI, manusia bakal melampaui AI. Bahkan AI yang paling sempurna pun. Dalam keadaan hipotetik yang dapat dicapai itu, manusia tak perlu lagi khawatir digusur AI.

Namun kalimat-kalimat di atas, terasa paradoks. Kecerdasan AI semula dikembangkan dari sistem kecerdasan manusia. AI dibentuk dengan meniru cara manusia mengembangkan kecerdasannya. Jika kini terdapat gagasan, manusia mengambil kembali sistem pembentukan kecerdasannya dari AI, nampak ada rasionalitas yang terbalik. Namun itu bukan gagasan yang mustahil.

Pada artikel yang ditulis, Jane Allison Gunn, 2022 dengan judul ’15 Things AI Can (and can't) Do’, dibuka dengan ungkapan, AI merupakan sebuah bentuk teknologi untuk membantu sistem komputer, meniru perilaku manusia. Kemampuan itu terbentuk oleh pelatihan algoritma, berdasar pengalaman dan pemrosesan yang diulang. Seluruhnya memberi kemampuan mesin untuk belajar, meningkatkan kemampuannya, dan memanfaatkan kemampuan itu, seakan manusia yang menggunakan pikirannya, memecahkan kompleksitas permasalahan. Terdapat 15 hal yang bisa dilakukan AI. juga yang tak dapat dilakukannya. Dalam konteks tulisan ini, diuraikan hal yang bisa dilakukan AI, dan komparasinya pada manusia. Sehingga muncul pembelajaran, yang dapat dilakukan manusia, untuk meningkatkan kapasitas kecerdasannya.

Beberapa hal itu, pertama, AI dapat dilatih dan belajar. AI mengalami proses input data dan pelatihan berulang. Data yang sama diinput berkali-kali. Ini bertujuan membangun algoritma, yang mampu menganalisis dan mengidentifikasi pola yang terbentuk. Dalam setiap adanya input data, AI melalui deep learning mempelajari polanya. Dari korpus yang telah terbentuk, AI memberi respon yang sesuai.

Pada manusia, kemampuan ‘dilatih dan belajar’, telah dimiliki sejak 1000 hari pertama kehidupan. Input data dilakukan oleh Sang Orang Tua. Juga lingkungan sekitarnya. Input dapat berupa data tak terstuktur, semi terstuktur maupun terstuktur. Semakin bertambah usianya, manusia makin mampu menerima input data terstruktur. Lewat sistem sekolah formal, misalnya. Sedangkan data tak terstruktur, dimulai dari kehadiran wajah orang tua, kebiasaan dasar yang dilakukan orang tua, seperti memandikan, menyusui, memeluk, juga respon orang tua terhadap suara tangis yang berbeda-beda. Peristiwanya berulang-ulang tak terbatas. Seluruhnya itu merupakan proses input data.

Dialektika bayi dengan orang tua maupun lingkungannya, membentuk korpus pertahanan kehidupan di masa awal kehidupan. Ini jadi dasar pembentukan kecerdasan tingkat berikutnya. Manusia terus meningkatkan kecerdasan, bahkan dapat melebihi AI dengan berlatih dan belajar. Karenanya, menolak berlatih dan belajar menjadikan manusia tak lebih sebagai onggokan mesin yang tak berfungsi.

Kemampuan kedua, AI mampu menyimpan bias. AI berperilaku sesuai corak data yang diterimanya. Pada penerimaan data yang tak beragam, AI juga berperilaku tanpa tendensi keragaman. Identik dengan corak data yang diterimanya. Kareanya, AI tak lain adalah perpanjangan pembuatnya. Meniru perilaku para pembentuknya.

Pada manusia, keragaman terbentuk pertama kali lewat corak data yang bersumber dari kedua orang tuanya. Laki-laki dan perempuan. Manakala orang tua laki-laki mendominasi proses pembelajaran, maka pandangan manusia laki-laki saja yang terutama membentuk manusia baru ini. Demikian pula sebaliknya. Karenanya untuk membentuk manusia cerdas yang lebih unggul dari AI, keragaman material pembelajaran harus dijamin.

Masih terdapat banyak hal yang sesungguhnya dapat dilakukan AI, berdasar uraian artikel di atas. Seperti, AI dapat mengidentifikasi suara dan gambar, mengklasifikasi teks dan dokumen, melakukan pekerjaan berulang, memilih investasi yang menguntungkan, menciptakan kondisi optimal di suatu lingkungan, menjaga keadaan tetap sehat, hingga melangsungkan pembiakan tumbuhan. Seluruh kemampuan yang juga bisa dilakukan manusia. Jika AI nampak jauh lebih unggul, tak lain hanya soal kuantitas. Jumlah yang dapat dilakukan berlipat kali lebih banyak, pengulangannya lebih intensif, dan tanpa ada tanda kelelahan maupun penurunan kualitas kerja. Namun seluruhnya bersumber dari satu hal utama: learning, pembelajaran. Karenanya untuk tetap mampu mengungguli AI, hanya learning yang dilakukan. Masih tetap khawatir digusur AI, tapi tetap tak mau learning? Itulah manusia.

*) Penulis adalah Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital dan pendiri LITEROS.org

**) Tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis, bukan pandangan Urbanasia

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait