URnews

Sering Diromantasasi Murah, Jogja Ternyata Masuk Daftar Kota dengan Biaya Hidup Termahal

Nindya Sari, Senin, 19 Januari 2026 13.31 | Waktu baca 3 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Sering Diromantasasi Murah, Jogja Ternyata Masuk Daftar Kota dengan Biaya Hidup Termahal
Image: Antaranews

Jakarta - Yogyakarta sering dikenal sebagai kota pelajar yang ramah di kantong. Namun, benarkah anggapan itu masih berlaku saat ini? Data terbaru justru menunjukkan fakta yang mengejutkan banyak orang.

Berdasarkan hasil Survei Biaya Hidup (SBH) yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Yogyakarta menduduki peringkat kedua sebagai kota dengan biaya hidup termahal di Indonesia. Posisi ini berada tepat di bawah Jakarta.

Data BPS menunjukkan rata-rata biaya hidup per rumah tangga di Kota Yogyakarta mencapai angka yang signifikan. Secara akumulatif, pengeluaran konsumsi di kota ini melampaui kota-kota besar lain di Pulau Jawa, seperti Surabaya atau Semarang.

Kenaikan ini didorong oleh perubahan pola konsumsi masyarakat. Selain itu, inflasi pada kelompok pengeluaran tertentu menjadi pemicu utama. Hal ini mematahkan citra lama Jogja sebagai ‘kota murah’ yang selama ini melekat.

Mengapa Biaya Hidup di Jogja Melonjak?

Lonjakan biaya hidup di Yogyakarta tidak terjadi tanpa alasan. Ada pergeseran struktur ekonomi yang membuat ‘kota gudeg’ ini semakin mahal bagi penduduknya.

1. Harga Propreti

Lonjakan harga properti menjadi faktor yang paling terasa. Investasi properti yang sangat masif di Yogyakarta membuat harga tanah melambung tinggi. Akibatnya, biaya sewa hunian dan cicilan rumah bagi keluarga muda menjadi jauh lebih berat dibandingkan satu dekade lalu.

2. Gaya Hidup

Perubahan gaya hidup masyarakat turut berperan besar. Kehadiran ribuan cafe, pusat perbelanjaan modern, dan tren gaya hidup urban telah mengubah standar pengeluaran harian. Kebutuhan sekunder yang dulu dianggap mewah, kini telah bergeser menjadi kebutuhan rutin bagi banyak warga Jogja.

3. Kota Wisata

Status Jogja sebagai magnet wisata dunia memberikan tekanan tambahan. Sering kali, harga barang dan jasa di area strategis disesuaikan dengan daya beli wisatawan. Hal ini menciptakan fenomena di mana warga lokal harus membayar ‘harga turis’ untuk memenuhi kebutuhan harian mereka.

Kombinasi faktor-faktor inilah yang akhirnya membuat angka pengeluaran rumah tangga di Jogja terus merangkak naik setiap tahunnya. Beberapa pengamat ekonomi memberikan pandangan mendalam mengenai fenomena ini.

Kesenjangan ini menciptakan tekanan ekonomi bagi penduduk lokal. Warga harus berhadapan dengan harga barang pokok yang tinggi, sementara daya beli mereka, termasuk Upah Minimum Provinsi (UMP) tidak tumbuh secepat kenaikan harga tersebut.

Bagi mahasiswa atau pendatang, Jogja mungkin masih terasa terjangkau jika dibandingkan dengan Jakarta. Namun, bagi warga lokal yang berkeluarga, biaya pendidikan dan kesehatan menjadi beban yang cukup berat.

Data akurat dari BPS ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam mengatur keuangan. Kepemilikan rumah pribadi di tengah kota bahkan kini dianggap sebagai impian yang semakin sulit dijangkau bagi generasi muda di Jogja.

Jogja Tak Lagi Murah?

Data BPS tidak bisa dibantah. Yogyakarta kini memang bertransformasi menjadi kota dengan biaya hidup tinggi. Meskipun kenyamanan dan budayanya tetap juara, sisi finansial memerlukan perencanaan yang lebih matang  kalau lo ingin tinggal di sana.

Apakah Jogja masih layak huni? Tentu saja. Namun, lo perlu siap dengan fakta bahwa ‘biaya kenyamanan’ di kota ini sekarang lebih tinggi dari  Ibu Kota, Jakarta!

Gimana menurut, lo?

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait