URnews

Tangan Dingin Arifin Lambaga Bawa Perusahaan Sertifikasi Kayu Lapis Jadi IPO

William Ciputra, Senin, 21 Agustus 2023 19.43 | Waktu baca 4 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Tangan Dingin Arifin Lambaga Bawa Perusahaan Sertifikasi Kayu Lapis Jadi IPO
Image: Arifin Lambaga, sosok di balik kesuksesan PT Mutuagung Lestari Tbk hingga IPO. (Istimewa)

Jakarta - PT Mutuagung Lestari atau MUTU International berhasil melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode emiten MUTU. Beberapa saat setelah dinyatakan IPO, saham MUTU pun mengalami kelebihan pemesanan atau oversubscribed hingga 252 kali. 

“Animo investor terlihat sangat tinggi untuk saham IPO MUTU yang tercermin dari oversubscribed hingga 252 kali,” kata Presiden Direktur PT Mutuagung Lestari atau MUTU, Arifin Lambaga pada Rabu (9/8/2023) lalu. 

Kesuksesan MUTU menjadi perusahaan yang go public tidak terlepas dari tangan dingin seorang Arifin Lambaga yang kini duduk sebagai Presiden Direktur perusahaan yang tahun ini sudah berusia 33 tahun itu. 

Sepak terjang Arifin Lambaga ini terekam apik dalam sebuah tesis berjudul “Aspek Leadership Terhadap Resiliensi Perusahaan Jasa Internasional (Studi Kasus: 33 Tahun Kepemimpinan Arifin Lambaga di MUTU International)” karya Lucia Devi Andriani. 

Sepak Terjang Arifin Lambaga

Arifin Lambaga mulai berkiprah di Mutuagung Lestari pada tahun 1990 sebagai seorang manajer dan menjadikan MUTU International sebagai satu-satunya perusahaan sertifikasi di Indonesia, seiring dengan kebutuhan sertifikasi kayu untuk keperluan ekspor ke Jepang. 

Saat itu Arifin sedang bekerja sebagai Project Officer di sebuah pabrik perekat kayu yang beroperasi di Samarinda, Kalimantan Timur. Kemudian, pria kelahiran Luwuk, 1957 itu pun pindah ke Jakarta untuk memulai perusahaan baru yang mampu menguji kayu lapis lokal agar sesuai dengan standar Jepang yang sangat ketat. 

Perusahaan itu diberi nama Kiani Mutulestari yang berdiri pada 2 Maret 1990. Seiring berjalannya waktu, nama perusahaan pun diubah menjadi PT Mutuagung Lestari hingga saat ini dikenal sebagai MUTU International. 

Kelahiran MUTU tampaknya menjadi angin segar bagi industri kayu. Tercatat ada sekitar 120 perusahaan kayu lapis yang sudah beroperasi saat MUTU lahir, namun hanya 70 persen saja yang menghasilkan produk dengan kualitas cukup, sedangkan sisanya menghasilkan produk berkualitas rendah. 

Celah inilah yang berhasil dilihat dan dimanfaatkan oleh Arifin Lambaga bersama MUTU. Ia lantas menyusun proses sertifikasi kayu lapis dengan standar yang bahkan lebih ketat dari yang diberlakukan oleh Jepang melalui Japan Plywood Inspection Corporation (JPIC). 

Proses sertifikasi yang ketat itu tertuang dalam Indonesian Plywood Standard (IPS), yang secara khusus memperketat unsur presisi siku atau squareness. Sejak saat itu, kualitas kayu lapis produksi Indonesia yang disertifikasi MUTU pun berhasil unggul dan jauh lebih baik dari produk yang disertifikasi JPIC. 

Namun pencapaian itu belum sepenuhnya memuaskan. Pasalnya, produk hasil sertifikasi MUTU melalui IPS masih perlu pengakuan dari pemerintah Jepang. Pasalnya, Pemerintah Jepang melarang penerbitan sertifikasi kayu lapis di luar lembaga JPIC, kecuali mendapat persetujuan dari Parlemen Jepang. 

Tak kehabisan akal, Arifin Lambaga pun mengajak pemerintah Jepang untuk melakukan audit bersama. Jika produk yang disertifikasi IPS lulus audit, maka produk bersertifikasi IPS dari MUTU bisa diekspor ke Jepang untuk keperluan non-pemerintah. 

Setelah penantian selama proses yang cukup panjang, jerih payah Arifin mulai membuahkan hasil manis. Pada 1996, Parlemen Jepang menyetujui MUTU International sebagai Foreign Testing Organization (FTO). Hal ini menjadikan MUTU sebagai salah satu dari 8 perusahaan di dunia yang punya wewenang penuh untuk melaksanakan proses sertifikasi di Jepang. 

Budaya Kerja MUTU 

Ada banyak aspek kepemimpinan yang diterapkan Arifin Lambaga selama menahkodai MUTU International hingga menjadi salah satu Lembaga Verifikasi dan Sertifikasi (LVV) terkemuka di Indonesia. 

Salah satunya adalah keberhasilan Arifin Lambaga mentransformasikan etos kerja menjadi role model dan budaya para karyawan yang hingga saat ini dikenal dengan kredibilitas dan integritasnya. 

Menurut Arifin, budaya yang dibutuhkan untuk sektor Testing, Inspection, dan Certification (TIC) adalah kejujuran atau trust. Selain itu, karyawan juga didorong untuk memberikan pelayanan secara profesional mengingat yang dijual adalah layanan.

“Dari awal, saya sangat menganjurkan kepada semua karyawan untuk bekerja secara profesional dan menjadikan kerja sebagai ibadah, sehingga tercipta internal control dalam diri masing-masing individu karyawan. Dengan menjadikan kerja Profesional dan bekerja secara jujur, maka akan tercipta value bagi setiap hal yang dikerjakan Perusahaan,” kata Arifin dalam pesan yang dikirimkan, Rabu (16/8/2023). 

“Hal lain yang selalu saya anjurkan adalah budaya untuk selalu berinovasi mencari dan menemukan peluang baru, maupun praktik terbaik, dalam rangka peningkatan nilai tambah bagi apa yg diberikan, baik oleh staf sebagai individu kepada perusahaan, maupun oleh perusahaan kepada para pelanggannya,” tutup Arifin. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait