Jakarta - Tahun 2020 merupakan tahun yang berat. Bukan hanya masalah pandemi COVID-19, tahun ini juga diramaikan dengan kasus-kasus pembunuhan yang bikin geger.

Bulan Maret lalu misalnya, bocah berumur 5 tahun dibunuh tetangganya yang berinisal NF. Belum lama ini juga terjadi usaha pembunuhan pada Syekh Ali Jaber yang dilakukan seorang pemuda berinisial AA.

Dan yang terbaru adalah kasus mutilasi YouTuber sekaligus manajer HRD, Rinaldi Harley Wismanu, yang dilakukan sepasang kekasih berinisial DAF (26) dan LAS (27).

Saat ada kasus pembunuhan, mayoritas menganggap pelaku memiliki gangguan kejiwaan. Padahal faktanya ada juga pelaku pembunuhan yang tidak punya gangguan kejiwaan.

Urbanasia pun mencari tahu mengenai stigma tersebut pada Psikolog Intan Erlita. Menurutnya orang yang membunuh belum tentu memiliki gangguan kejiwaan.

"Orang membunuh belum tentu memiliki gangguan kejiwaan, begitu juga sebaliknya. Orang dengan gangguan kejiwaan belum tentu jadi seorang pembunuh. Jadi ini dua hal yang harus dipisahkan, karena pasti orang membunuh ada motifnya, ada kenapanya. Dan ini yang harus ditelusuri lebih jauh lagi baik dari polisi maupun dari ahli-ahli kejiwaan. Jadi ini dua hal yang berbeda," jelas Intan saat dihubungi Urbanasia.

Seperti disinggung tadi, orang yang membunuh punya motif. Dan motif pembunuhan yang biasa dilakukan disebutkan Intan adalah karena masalah harta dan hati. 

"Biasanya orang melakukan pembunuhan ini cuma dua motifnya, kalau nggak harta masalah hati. Karena ini memang dua hal basic yang menyebabkan seseorang bisa hilang akal sehat dan akhirnya bisa membunuh seseorang," terangnya.

Intan juga menyatakan dua motif itu bahkan bisa membuat pembunuh menghilangkan nyawa orang terdekatnya sendiri.

"Dan bukan nggak mungkin yang dibunuh justru seseorang terdekatnya atau temannya," ungkap Intan.

 

Komentar
paper plane