Jakarta - Wanita di dunia bahkan di Indonesia tidak pernah terlepas dari yang namanya proses mengejar kecantikan. Apalagi di tiap perubahan zaman standar kecantikan kerap ikut berubah-ubah, Urbanreaders

Di Indonesia sendiri pergeseran standar kecantikan selalu berubah-ubah, baik dari pengaruh media maupun pengaruh budaya sejak zaman dulu.

Saat masa kini, kita semua tentu tahu, standar kecantikan wanita Indonesia di gambarkan dengan wanita yang bertubuh langsing dan berkulit putih dan masih banyak lagi. 

Yup, standar kecantikan ini pun tidak lepas dari pengaruh budaya baru yang terus masuk ke Indonesia, mulai dari standar kecantikan Korea hingga standar kecantikan wanita barat.

Tidak hanya pada masa kini saja, pada zaman Jawa kuno dulu kecantikan wanita juga telah memiliki standar yakni kecantikan wanita digambarkan seperti tokoh Sita, istri Rama di kisah sastra Ramayana. 

Kecantikan Sita digambarkan sebagai wanita muda yang sungguh cantik dan berperilaku baik serta bercahaya bagai rembulan. Rembulan yang digambarkan pasa Sita adalah simbol kulit wanita yang bercahaya.

Standar kecantikan ini pun terus mengalami perubahan, pada masa era kolonial saat Indonesia dimasuki oleh para penjajah Eropa, standar kecantikan Indonesia pun turut berubah apalagi dengan adanya produk-produk kecantikan yang didagangkan oleh mereka. 

Memasuki era penjajahan Jepang, standar kecantikan Indonesia pun kembali berubah yakni mengikuti standar kecantikan wanita Jepang yang identik dengan kulit putih bersihnya dan beberapa penampilan fisik lainnya.

Belum lagi pada masa naiknya sosok boneka Barbie, standar kecantikan pun turut berubah drastis mengikuti gaya Barbie yakni wanita yang bertubuh langsing, bermata biru, berambut pirang, dan berkulit putih. 

Pergeseran standar kecantikan ini pun terus terjadi, sekitar tahun 1970-an beberapa produk lokal Indonesia menawarkan standar kecantikan wanita dalam gambaran yang berbeda. Kecantikan Indonesia pada masa itu distandarkan tidak harus berkulit putih namun wanita juga cantik dengan warna kulit kuning langsat. 

Tapi standar kecantikan wanita Indonesia ini kembali bergeser dengan masuknya produk-produk kecantikan baru yang masih menawarkan bahwa standar kecantikan wanita adalah dengan memiliki kulit putih. 

Dikutip dari buku Ita Yulianto (2007), pergeseran standar kecantikan warna kulit ini menandai adanya dekonstruksi warna kulit. Apalagi standar kecantikan warna kulit wanita Indonesia sudah terpaku pada pesona warna kulit wanita dari barat yang memiliki warna kulit putih.

Bahkan, pada masa kini untuk mengejar standar kecantikan ini tidak sedikit wanita Indonesia yang tidak lagi hanya menggunakan produk kecantikan namun juga menghabiskan waktu yang lama di klinik-klinik kecantikan demi mendapatkan standar kecantikan tersebut. 

Standar kecantikan ini tentu saja tidak sesuai dengan beragam suku dan kebudayaan yang ada di Indonesia, bentuk wajah hingga warna kulit di setiap suku di Indonesia tentu memiliki ciri khas berbeda-beda. Namun sayangnya standar kecantikan ini telah menggeser standar kecantikan yang benar-benar khas kecantikan wanita Indonesia.

Komentar
paper plane