beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URnews

PPATK Blokir 60 Rekening ACT di 33 Bank

Putri Rahma,
7 Juli 2022 07.30.01 | Waktu baca 2 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
PPATK Blokir 60 Rekening ACT di 33 Bank
Image: Medical Services, salah satu program kemanusiaan ACT. (Istimewa)

Jakarta - Kasus dugaan penyelewengan dana donasi umat oleh lembaga filantrofi Aksi Cepat Tanggap (ACT) berujung panjang. Setelah izinnya dicabut oleh Kemensos, kini puluhan rekeningnya juga diblokir oleh PPATK. 

Kepala PPATK, Ivan Yustiavandana mengatakan, pihaknya memblokir sebanyak 60 rekening ACT yang terdapat pada 33 bank terhitung hari Rabu, 6 Juli 2022. 

“PPATK menghentikan sementara transaksi atas 60 rekening atas nama entitas yayasan tadi (ACT) di 33 penyedia jasa keuangan, sudah kami hentikan,” kata Ivan dalam Konferensi Pers melalui Kanal Youtube PPATK Indonesia yang dikutip Urbanasia, Kamis (7/7/2022). 

Ivan menegaskan, pihaknya sudah menjalankan kewenangan Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 dan Perpres No 50 tahun 2011. Selain itu juga sudah melakukan analisis transaksi keuangan yang dilaporkan kepada PPATK.

Ia menjelaskan, penghimpunan dan penyaluran dana harus dilakukan secara akuntabel dengan aturan yang sudah jelas. PPATK juga menjalankan Perpres No 18 tahun 2017 yang meminta ormas saat melakukan himpunan atau kegiatan penyaluran dana untuk melakukan prinsip kehati-hatian dengan menerapkan ‘know your donor’.

Dalam pengawasan PPATK, ACT tidak hanya terkait dengan zakat saja, tapi juga ada kegiatan lain seperti kurban dan wakaf. Selain itu, diungkap pula adanya lapisan perusahaan yang terkait dengan investasi di dalam tubuh ACT.

Lebih jauh, Ivan juga menerangkan adanya indikasi penyalahgunaan dalam transaksi keuangan ACT. Penyalahgunaan itu terkait dengan kepentingan pribadi dan dugaan aliran dana untuk aktivitas terlarang.

Terkait dugaan itu, PPATK mencatat ada 17 kali transaksi dengan nilai total Rp 1,7 miliar yang dilakukan ACT dengan tujuan negara yang dinilai berisiko tinggi dalam pendanaan terorisme. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait