menu
user
URnews

Sederet Kabar Buruk dan Baik Indonesia dalam Mengurai Sampah

Shelly Lisdya,
sekitar 2 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Sederet Kabar Buruk dan Baik Indonesia dalam Mengurai Sampah
Image: Ilustrasi sampah. Sumber: Freepik/jcomp.

Jakarta - Indonesia menjadi salah satu negara di Asia Tenggara dengan penghasil sampah terbesar. 

Dari data World Bank, Indonesia menghasilkan hampir 200 ribu ton sampah setiap hari. Hal ini dikarenakan, praktik pembelian tradisional, di mana masyarakat Indonesia cenderung membeli makanan untuk sehari setiap kali dari sumber lokal, telah digantikan oleh belanja supermarket, yang mendorong overbuying serta pemborosan makanan melalui transportasi jarak jauh. 

Tak hanya itu, United Nations Environment Programme (Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa) turut menyoroti Asia Tenggara terkait kasus penghasil sampah terbesar di dunia. 

Dari laporan UNEP, ada beberapa kabar buruk dan baik terkait sampah di Indonesia, apa saja?

Kabar Buruk:

1. Indonesia Penghasil Sampah Terbesar di Asia Tenggara

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2020 mencatat, setidaknya ada 67,8 juta ton sampah yang dihasilkan di Indonesia.

"Jumlah timbulan sampah yang ada masih sangat besar, sekitar 67,8 ton tercatat pada tahun 2020 dan akan terus bertambah dengan pertumbuhan penduduk dan perubahan gaya hidup dengan kesejahteraan masyarakat yang semakin meningkat," ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar dalam peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2021, melalui kanal YouTube Kementerian LHK, Senin (22/2/2021).

Siti Nurbaya juga menyebut, dengan persoalan sampah yang terus meningkat setiap tahunnya, menjadi PR bagi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat. 

"Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, karena sampah bersumber dari segala pusat, terutama rumah tangga, pasar industri dan dari berbagai aktivitas manusia lainnya. Ini menjadi masalah serius, sehingga diperlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat," bebernya.


2. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Overload

Seiring bertambahnya jumlah dan kekayaan penduduk Indonesia, situasi sampahnya semakin memburuk. Indonesia menerapkan Undang-Undang Sampah pada tahun 2008 untuk mengendalikan situasi yang terus berputar. 

Untuk itu, pembuangan atau pengelolaan sampah pun dilakukaan di TPA. Hanya saja, setiap hari tak sedikit sampah yang dikirim ke TPA dan membuatnya semakin overload. Seperti beberapa TPA di Indonesia yang mengalami overload, di mana saja? 

- TPA Bantar Gebang
Jakarta menjadi kota terpadat di Asia Tenggara dengan perkiraan 10,8 juta orang, kota ini baru saja mulai membangun insinerator pertamanya. Hanya ada satu solusi limbah, yakni TPA Bantar Gebang, TPA terbesar di Jakarta (atau lebih tepatnya, open dump) menampung hampir tujuh hingga delapan ribu ton sampah setiap hari.  

Apabila kapasitas sampah di TPA Bantar Gebang setiap tahun terus naik, maka diperkirakan lokasi ini akan tutup pada 2021. Artinya, daya tampung sampah dari Bekasi maupun Jakarta, tidak lagi dapat dibuang di TPA Bantar Gebang.

- TPA Cipayung Depok
TPA Cipayung memiliki luas sekitar 10 hektar, sementara untuk menampung sampah hanya 4,5 hektar. Padahal, setiap harinya, sampah di Kota Depok mencapai 1.565 ton. Namun, hanya 934 ton sampah yang masuk ke TPA Cipayung.

Guna mengurangi kapasitas beban sampah di TPA Cipayung, Pemerintah Kota Depok bakal membuat sampah menjadi bahan bakar produksi menggunakan metode Refuse Derived Fuel (RDF). 

- TPA Cipeucang Tangerang Selatan
TPA Cipeucang dalam beberapa waktu ke depan dikabarkan sudah tidak bisa menampung sampah di Kota Tangerang Selatan. Ini karena sampah yang dikirimkan ke TPA Cipeucang melebihi batas kapasitas.

Pemerintah pun akan mengirimkan 400 ton dari total 800 ton sampah yang dihasilkan warga Tangsel per hari akan ditampung ke TPA Cilowong, Kota Serang.

3. Langkanya Perusahaan yang Peduli Lingkungan

Perusahaan di Indonesia termasuk yang skornya paling rendah di Asia Tenggara, dalam survei 2020 UNEP dan Food Industry Asia terkait perusahaan makan dan minum mendaur ulang sampah kemasan mereka.

Bahkan, berdasarkan data Sustainable Waste Indonesia (SWI), kurang dari 10 persen sampah plastik terdaur ulang dan lebih 50 persen tetap berakhir di TPA.


4. Limbah Medis

KLHK mencatat, telah terjadi peningkatan jumlah limbah medis (B3) yang cukup signifikan yakni sekitar 30-50 persen selama pandemi COVID-19.

"Tantangan sampah medis yang tergolong B3 meningkat hampir 30 hingga 50 persen. Sampag yang dihasilkan, yakni dari APD, dan kami masih memperhitungkan dari vaksin, seperti bekas suntik atau botol vaksin," kata Siti Nurbaya.

Hingga 15 Oktober 2020 tercatat sebanyak 1.662,75 ton limbah COVID-19. Limbah jenis ini merupakan limbah dengan karakteristik tertentu yang mana baik secara langsung maupun tidak langsung dapat menimbulkan dampak berbahaya bagi manusia maupun lingkungan.

"B3 meningkat 30 persen dari sebelum pandemi, saat ini tercatat ada 2.867 rumah sakit di seluruh Indonesia dengan jumlah sampah 383 ton per hari. Jumlah rumah sakit yang memiliki izin pengelolaan limbah B3 per 19 Februari hanya 120 fasilitas dengan kapasitas 75 ton per hari," terangnya.

Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, KLHK telah membangun enam fasilitas pemusnah limbah medis yang diserahkan ke Pemprov Sulsel, Aceh, Sumbar, NTT, NTB dan Kalsel. "Akhir 2024 berharap terbangun di 27 lokasi," ungkap Siti.

Kabar Baik:

1. Masyarakat Indonesia Mulai Peduli Lingkungan 

Dari data BPS tahun 2015 menunjukkan bahwa Indonesia hanya mendaur ulang tujuh persen dari total limbahnya. 

Namun, beberapa tahun terakhir gerakan sadar lingkungan mulai dicanangkan pemerintah maupun sektor swasta, yakni dengan mendaur ulang sampah.

Setidaknya 49 persen responden di Indonesia yang menyatakan tak mau membeli produk yang kemasannya bukan hasil daur ulang. Tak hanya itu, melalui bank sampah, masyarakat juga mendaur ulang sampah, khususnya plastik untuk dijadikan kerjinan maupun sumber daya.

"Pengolahan sampah menjadi sumber daya, baik bahan baku maupun sumber energi terbarukan serta pemrosesan akhir sampah di TPA. Banyak masyarakat kita yang saat ini mulai melirik sampah untuk didaur ulang," terang Siti Nurbaya.

2. Aplikasi Tukar Sampah dengan Uang

Beberapa tahun terakhir, start-up menawarkan memilah sampah dan mendaur ulang akan diberikan imbalan berupa uang, voucher belanja, atau pulsa.

Setidaknya ada enam start-up lokal yang membual aplikasi menukar sampah dengan uang. Hadirnya start-up sampah ini dapat menyediakan wadah bagi masyarakat Indonesia untuk membuang sampah ke tempatnya dengan bonus sejumlah uang.

3. Sampah Mi Instan jadi Aspal

Universitas Indonesia (UI) telah membuktikan sampah mi instan atau sachet plastik dapat dijadikan bahan baku pengaspalan. 

Pada tahun 2020 lalu, UI telah mengaspal jalan Prof. Dr. Sumitro Djoyohadikusumo denhan limbah mi instan. Pengaspalan dilakukan dengan area seluas 241 meter persegi.

4. Zero Waste

Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) mendorong program Zero Waste Cities (ZWC). 

Zero Waste Cities merupakan kegiatan pemilahan sampah di kawasan, pengolahan dan pemanfaatan semua sampah yang terpilah sehingga mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke TPA.

Dengan demikian, pengelolaan sampah yang sebelumnya merupakan kumpul angkut buang, kini menjadi desentralisasi dan Zero Waste.

KLHK menilai saat ini masyarakat Indonesia telah merubah perilaku terhadap pengurangan sampah plastik, dengan gerakan zero waste dengan mengurangi penggunaan bahan plastik.

"Lebih dari 61 persen masyarakat dari berbagai profesi setuju membawa kantong belanja sendiri, kemudian 90 persen masyarakat diet menggunakan platsik serta 97 persen masyarakat berkeinginan melakukan pengurangan sampah plastik," tandas Siti Nurbaya.

 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait