Anak Sekolah di 27 Kota Ikuti Skrining Penyakit Jantung Bawaan Gratis

Jakarta - Kesehatan jantung pada anak sering kali luput dari perhatian. Padahal, banyak kelainan jantung bawaan yang tidak selalu menunjukkan gejala jelas di usia dini.
Momentum Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada 7–14 Februari pun dimanfaatkan untuk mendorong deteksi lebih awal. Salah satunya melalui program skrining gratis yang menyasar anak usia sekolah.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), melalui Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan, menggelar skrining PJB secara berseri di 27 kota. Kegiatan ini menjangkau berbagai wilayah, dari Aceh hingga Jayapura.
Program tersebut menargetkan siswa sekolah dasar serta santri pondok pesantren. Fokus utamanya bukan hanya menemukan potensi kelainan jantung sejak dini, tetapi juga membangun kesadaran bahwa pemeriksaan jantung penting dilakukan bahkan ketika anak terlihat sehat.
Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan PERKI, Dr. Oktavia Lilysari, menekankan bahwa keterbatasan data masih menjadi tantangan besar dalam penanganan PJB di Indonesia.
“Selama ini Indonesia belum memiliki gambaran utuh mengenai prevalensi Penyakit Jantung Bawaan pada anak karena keterbatasan data nasional. Melalui skrining serentak ini, kami tidak hanya berupaya menemukan kasus lebih dini, tetapi juga mengumpulkan data awal yang sangat penting,” jelasnya.
Menurutnya, deteksi dini dapat membuka peluang tatalaksana yang lebih cepat. Dampaknya bukan sekadar medis, tetapi juga berkaitan langsung dengan kualitas hidup anak di masa depan.
Salah satu kegiatan skrining PJB gratis ini digelar di SD Negeri Makassar 03 Pagi, Jakarta Timur yang berlangsung pada Kamis (12/2/2026). Skrining ini diikuti oleh siswa-siswi kelas 5 dan 6.
Pelaksanaan skrining ini turut didukung oleh GE HealthCare Indonesia. Dukungan diberikan melalui penyediaan sistem ultrasonografi untuk membantu proses pemeriksaan jantung anak.
Teknologi pencitraan menjadi elemen krusial dalam skrining, terutama untuk mengidentifikasi kelainan struktural yang tidak bisa dideteksi hanya lewat pemeriksaan fisik biasa.
CEO GE HealthCare Indonesia, Kriswanto Trimoeljo, menyebut kolaborasi ini sebagai bagian dari komitmen memperluas akses layanan preventif.
“Dukungan kami terhadap program skrining PJB nasional ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk membantu tenaga medis melakukan deteksi dini, sekaligus mendukung masa depan kesehatan anak yang lebih baik,” ujarnya.
Lebih dari sekadar agenda seremonial, skrining ini diharapkan menjadi langkah awal menuju penguatan data nasional Penyakit Jantung Bawaan. Data yang terkumpul nantinya dapat menjadi fondasi untuk registri PJB yang lebih komprehensif.
