URstyle

Tindakan Ablasi Jantung Minimal Invasif Kini Bisa Dilakukan di Jakarta

Urbanasia, Sabtu, 9 Mei 2026 23.31 | Waktu baca 3 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Tindakan Ablasi Jantung Minimal Invasif Kini Bisa Dilakukan di Jakarta
Image: Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Prof. Yenn-Jiang Lin, MD, PhD, dan dr. Agung Fabian Chandranegara, saat live case tindakan pertama teknologi ablasi tanpa radiasi. (Ist)

Jakarta - Penanganan gangguan irama jantung atau aritmia kini semakin berkembang dengan pendekatan yang lebih aman dan minim invasif. 

Teknologi terbaru bahkan memungkinkan tindakan ablasi jantung dilakukan tanpa ketergantungan pada paparan radiasi X-Ray, sehingga risiko bagi pasien maupun tenaga medis dapat ditekan.

Teknologi tersebut kini sudah tersedia di Primaya Hospital Kelapa Gading melalui penguatan layanan Cardiac & Vascular Center yang menghadirkan teknologi non-fluoroscopic cardiac ablation atau ablasi jantung tanpa radiasi dengan sistem 3D electro-anatomical mapping.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Intervensi dan Aritmia, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi menjelaskan, teknologi seperti ini memungkinkan tindakan ablasi dilakukan dengan safety profile yang lebih baik sekaligus mengurangi paparan radiasi bagi pasien maupun tenaga medis. 

“Risiko komplikasi berat pada tindakan ablasi juga sangat rendah, yaitu kurang dari 0,2 persen. Kini, layanan terapi jantung advanced tersebut sudah dapat dilakukan di Primaya Hospital Kelapa Gading,” ujarnya, Sabtu (9/5/2026).

Menurut Prof. Yoga, perkembangan terapi aritmia saat ini terus bergerak menuju pendekatan yang lebih aman, presisi, dan minim invasif. Teknologi terbaru memungkinkan dokter memetakan anatomi serta jalur listrik jantung secara real-time tanpa ketergantungan pada radiasi X-Ray.

Ia menjelaskan, atrial fibrilasi atau AF menjadi salah satu gangguan irama jantung yang kini semakin banyak ditemukan dan menjadi masalah kesehatan global. Di kawasan Asia Pasifik, jumlah penderitanya diperkirakan mencapai sekitar 50 juta orang, sementara di Indonesia berkisar 3–5 juta orang.

Yang menjadi tantangan, kondisi ini sering kali tidak terdeteksi karena banyak pasien tidak mengalami gejala. Bahkan, hampir 60 persen pasien baru mengetahui kondisinya setelah mengalami stroke.

“Keluhan jantung berdebar sering dianggap sepele, padahal kondisi ini dapat meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat. Jika keluhan muncul berulang, sebaiknya segera diperiksakan,” jelasnya.

Teknologi ablasi tanpa radiasi ini diperkenalkan melalui kegiatan “Live Case – Hands on Non Fluoroscopic Ablation Course’ yang menghadirkan tim dokter spesialis jantung Primaya Hospital Kelapa Gading serta kolaborasi dengan pakar internasional dari Taiwan.

Direktur Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Ferry Aryo, mengatakan penguatan layanan ini menjadi bagian dari komitmen rumah sakit dalam menghadirkan layanan jantung modern yang komprehensif dan berstandar internasional.

Menurutnya, live case ini bukan hanya menunjukkan teknologi, tetapi juga menjadi bukti bahwa Cardiac & Vascular Center di Primaya Hospital Kelapa Gading telah memiliki layanan jantung modern paripurna seperti angioplasti, PCI, CABG, hingga ablasi. 

“Ke depan kami ingin terus mengembangkan agar masyarakat mendapatkan akses layanan jantung advanced yang lebih aman, presisi, dan terintegrasi tanpa harus ke luar negeri,” ujarnya.

Melalui penguatan layanan ini, Primaya Hospital Group juga ingin memperkuat perannya sebagai pusat layanan jantung modern dengan dukungan teknologi medis terkini, keunggulan klinis, serta pendekatan patient-first.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait