Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, bakal mengganti Ujian Nasional (UN) menjadi Asesmen Nasional pada tahun 2021 mendatang.

Perubahan ini, disebutkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), yakni evaluasi pendidikan di Indonesia dan menjadi bagian dari kebijakan Merdeka Belajar yang didukung oleh Presiden Joko Widodo.

Nantinya, Kemendikbud turut mengundang pemangku kepentingan untuk memberikan masukan terhadap rencana penerapan Asesmen Nasional.

Tujuan dari Asesmen Nasional ini pun tak lain adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, pengajaran, dan lingkungan belajar di satuan pendidikan.

"Asesmen diharapkan mampu memperbaiki kualitas layanan pendidikan menkadi lebih efektif. Kemudian kepala dinas juga harus memastikan kebijakan ini dengan
 memperhatikan kesiapan sarana prasarana dan keselamatan peserta didik," ujar Anggota Badan Standar Nasional Pendididikan (BSNP), Doni Koesoema.
 

Dalam kebijakan ini, akan dibagi tiga, yakni Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

Nantinya, dalam AKM, pendidik tidak lagi mengevaluasi capaian peserta didik secara individu, akan tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil.

Kedua, Survei Karakter. Asesmen ini mengukur pencapaian peserta didik dari hasil belajar sosial emosional berupa pilar karakter untuk mencetak profil Pelajar Pancasila.

Ada enam indikator utama dalam penilaian Survei Karakter, yakni beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, kebhinekaan global, kemandirian, gotong royong, bernalar kritis, dan kreativitas.

Ketiga, Survei Lingkungan Belajar. Hal ini untuk mengevaluasi dan memetakan aspek pendukung kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah.

Selain itu, Kemendikbud juga akan membantu sekolah dan dinas pendidikan dengan menyediakan laporan hasil asesmen yang menjelaskan profil kekuatan dan area perbaikan tiap sekolah dan daerah.

 

Komentar
paper plane