beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URtainment

Tim Paduan Suara Indonesia Sukses Juarai Kompetisi Padus Bergengsi Dunia

Kintan Lestari,
4 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Tim Paduan Suara Indonesia Sukses Juarai Kompetisi Padus Bergengsi Dunia
Image: Potret peserta BMS dan Juri 31st Grand Prix for Choral Singing 2022 di Tours, Perancis. (Dok. The Resonanz Music)

Jakarta - Pencapaian baru diraih tim paduan suara Batavia Madrigal Singers (BMS). Pada pukul 4 dini hari tadi (pukul 23.00 waktu Perancis), BMS berhasil menjuarai 31st European Grand Prix for Choral Singing (EGP) 2022 yang digelar di Grand Theatre kota Tours, Prancis.

Kemenangan di Prancis ini sekaligus menjadi hadiah ulang tahun untuk BMS yang tahun ini menginjak 26 tahun berkarya.

Buat Urbanreaders yang belum tahu, European Grand Prix for Choral Singing merupakan kompetisi paduan suara tertua di dunia yang mempertandingkan para pemenang juara umum dari enam kompetisi paling bergengsi di Eropa. 

Adapun enam kompetisi tersebut di antaranya Concorso Polifónico Guido d'Arezzo (International Guido d'Arezzo Polyphonic Contest) di kota Arezzo, Italy; Béla Bartók International Choir Competition di kota Debrecen, Hungaria; International Choral Competition Gallus Maribor di kota Maribor, Slovenia; Certamen Coral de Tolosa (Tolosa Choral Competition) di kota Tolosa, Spanyol; Florilège Vocal de Tours (Tours Vocal Competition) di kota Tours, Perancis; dan International May Choir Competition "Prof. G. Dimitrov" di kota Varna, Bulgaria. 

Di European Grand Prix tahun ini, masing-masing finalis EGP mempersiapkan program penampilan secara bebas dengan durasi waktu 22-26 menit dan melibatkan karya dari 3 zaman yang berbeda.

BMS diperkuat dengan 44 orang penyanyi dan 1 pianis yang dikonduktori oleh maestro Avip Priatna membawakan enam buah karya, yaitu Paroles Contre L’oubli karya Thierry Machuel, Deus in Auditorium Meum Intende karya Juan Gutiérrez de Padilla, Love’s Tempest karya Edward Elgar, Stabat Mater karya József Karai, Der Frühlingswind karya Toyotaka Tsuchida, dan Hentakan Jiwa karya Ken Steven.

1655629827-Piala-EGP.jpgSumber: Piala Pemenang 31st Grand Prix for Choral Singing 2022 . (Dok. The Resonanz Music)

Selain BMS, kelompok paduan suara Tanah Air yang juga berlaga di Prancis adalah Paduan Suara Mahasiswa Universitas Padjajaran dari Indonesia (juara umum Concorso Polifónico Guido d'Arezzo 2019), Jāzeps Vitols Latvian Music Academy Mixed Choir dari Latvia (juara umum International Choir Competition Gallus) dan Choir SŌLA of the Latvian Academy of Culture yang juga dari Latvia (juara umum Florilège Vocal de Tours). 

Kompetisi bergengsi tersebut menggaet tujuh orang juri berkompeten untuk menilai penampilan-penampilan dari para finalis, yaitu Brady Allred, konduktor dari Salt Lake City, Amerika Serikat; Martina Batič konduktor dari Slovenia; Roland Hayrabedian konduktor dari Perancis; Simon Kim Phipps, konduktor dari Inggris; Mikael Wedar, konduktor dari Swedia; dan Adrian Pop, seorang komposer dari Rumania.

“Saya mewakili BMS mengucapkan syukur kepada Tuhan YME dan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berpartisipasi mempersiapkan kami sehingga menjadi juara di 31st European Grand Prix for Choral Singing (EGP) 2022 ini. Kami sangat bangga dan tentunya bahagia sekali, walaupun pertandingan ini sempat ditunda 2 tahun karena adanya pandemi COVID-19,” ujar pendiri sekaligus direktur BMS Avip Priatna.

BMS bukan satu-satunya kelompok paduan suara Tanah Air yang berhasil menjuarai EGP. Sebelumnya, pada 2018 tepatnya, kelompok paduan suara anak The Resonanz Children Choir (TRCC), yang juga merupakan bagian dari The Resonanz Music seperti BMS, berhasil menjuarai EGP yang berlangsung di kota Maribor, Slovenia. Ketika itu TRCC juga dikonduktori oleh maestro Avip Priatna.

“Setelah pertandingan ini, BMS tetap akan selalu memberikan performa-performa terbaiknya, bukan saja di setiap pertunjukan, tetapi juga membawa nama harum Indonesia di setiap kompetisi ternama Internasional yang kami ikuti”, sambung Avip Priatna.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait