Jakarta – Mewabahnya virus corona penyebab coronavirus disease (COVID-19) mau tidak mau membuat interaksi dengan sahabat, teman dan bahkan pasangan menjadi terbatas.

Belum lagi mereka yang menjalani long distance relationship (LDR) atau long distance marriage (LDM) tidak bisa mudik dan berkumpul dengan keluarga di tengah ketakutan dan kekhawatiran akan virus corona. 

Terlebih pandemi ini terjadi pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang identik dengan kebersamaan. Keadaan semacam ini sedikit banyak mempengaruhi psikologi kita semua.

Psikolog Nurul Aini Ongkowidjoyo, dalam program #Urtalk yang diselenggarakan oleh Urbanasia dan Riliv dengan topik “Dealing with Anxiety: Jaga Mental Health Saat Ramadhan di Tengah Pandemi” mengatakan, keterbatasan berinteraksi dengan orang lain semacam itu mampu menimbulkan perasaan tidak nyaman.

“Belum lagi memang pada dasarnya manusia punya beberapa kebutuhan dasar salah satunya itu adalah kebutuhan akan cinta. Kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman gitu (saat ini) nggak bisa dipenuhi,” kata Nurul dalam webinar yang dimoderatori oleh dimoderatori oleh editor Urbanasia.com, Okke Oscar melalui aplikasi zoom di Jakarta pada Sabtu (16/5/2020) sore.

Perempuan yang akrab disapa Nurul tersebut menambahkan bahwa kondisi seperti itu bisa dilawan dengan pola adaptasi.

“Mau nggak mau ya dalam tanda kutip, kita harus mencari cara. Ketika kita sudah pengen (bertemu), tapi nggak bisa. Kita bisa lakukan dengan cara yang lain misalnya dengan video call,” ungkap Nurul.

Menurutnya, dengan melakukan video call bersama teman, keluarga atau pasangan, sudah bisa menggantikan kebutuhan untuk bersosialisasi atau kebutuhan akan cinta.

Selain itu, Nurul juga menyarankan untuk kreatif dalam melakukan modifikasi dalam berhubungan sosial.

Untuk mereka yang tengah jauh dari pasangan, bisa dengan menggunakan cara-cara klasik semacam berkirim surat yang akan mampu menyegarkan kembali hubungan.

“Misalnya kita kirimin hal-hal yang sifatnya romantis misalnya kirim surat. Kita kan udah lama nggak ngirim surat. Tiba-tiba ada di depan kos-kosan gitu ada surat tulisannya I love you. Gitu aja udah senang,” ujar Nurul.

Tak hanya itu. Kerinduan dengan keluarga, sahabat atau pasangan juga bisa disiasati dengan mencium wangi parfum yang sering digunakan oleh orang yang dirindukan.

“Dengan mencium parfum akan mampu memberikan ketenangan. Bisa ngobatin rasa kangen dengan pasangan,” tandas perempuan asal Surabaya tersebut.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Nurul juga membeberkan tips untuk mengurangi rasa stress karena bosan, jenuh dan terlalu lama di rumah selama pandemi.

Yakni dengan melakukan sentuhan-sentuhan di bagian-bagian yang memiliki tekanan tinggi. Seperti kening, bawah mata, juga belakang leher atau tengkuk.

“Atau juga bisa dengan melakukan gerakan-gerakan berlawanan. Melakukan sentuhan-sentuhan pada titik-titik ini akan mampu mengurangi rasa stress,” kata Nurul.

Tak hanya orang dewasa, menjaga anak-anak tetap waras selama masa pandemi juga merupakan hal yang penting. Terlebih di masa pandemi ini, anak-anak tak bisa bersekolah dan bertemu dengan teman-temannya.

“Untuk mengurangi kejenuhan pada anak bisa dengan role play. Atau yang pernah saya tahu di media sosial, ada orang tua yang membuat pasar kecil di dalam rumah. Ketika anak berbuat baik, maka akan mendapatkan reward atau hadiah dari orang tua,” paparnya.

Komentar
paper plane