7 Tanda Pacar Kamu punya Kecenderungan 'Emotionally Unstable'

Jakarta - Kita semua pasti pernah mengalami hari buruk yang bikin mood jadi berantakan. Tapi, apa sih sebenarnya batasan antara mood jelek dengan kondisi emotionally unstable atau tidak stabil secara emosional?
Buat kamu yang masih baru dengan istilah ini, emotionally unstable atau juga biasa disebut dengan borderline personality disorder (BPD) atau gangguan kepribadian ambang, adalah gangguan mental yang ditandai dengan suasana hati, perilaku, dan hubungan yang tak stabil.
Baca Juga: 5 Zodiak Paling Sulit Diajak Pacaran Serius
Menurut psikolog Dr. Ashley B. Hampton, PhD, seperti dilansir dari Bustle, ketidakstabilan emosi biasanya diartikan sebagai emosi dan reaksi yang tidak bisa diprediksi terhadap suatu kejadian. Misalnya, saat terjadi sebuah peristiwa, biasanya kamu akan bisa memprediksi bagaimana semestinya respons seseorang terhadap hal itu.
Nah, beda ceritanya dengan orang yang memiliki gangguan ini, guys. Kamu bakal nggak bisa menduga reaksinya terhadap peristiwa atau kejadian yang tengah dialaminya.
Baca Juga: 10 Tanda Hubungan Pacaran yang Sehat
Lebih lanjut, Dr. Ashley mengatakan bahwa gangguan BPD ini dapat terjadi sebagai akibat dari gangguan mental lain seperti depresi, gangguan kecemasan, atau trauma di masa lalu.
Kalau kamu saat ini juga punya masalah dengan pacar yang gampang berubah suasana hatinya, kamu bisa kenali beberapa tanda berikut biar kamu tahu apakah dia memiliki gangguan emotionally unstable.
1. Kemarahan yang Meledak-ledak
Sumber: Ilustrasi marah (Freepik)
Tanda pertama yang mesti kamu waspadai adalah sikapnya saat marah. Bagaimana dia mengekspresikan kemarahannya, menjadi tanda yang bisa kamu lihat. Orang yang memiliki kecenderungan emotionally unstable, akan dengan mudah marah yang meledak-ledak hanya untuk sesuatu yang sepele.
2. Drama
Sumber: Ilustrasi drama (Freepik)
Saat menghadapi kejadian yang tak menyenangkan atau menghadapi sesuatu yang tak berjalan sesuai dengan harapan, bagaimana sikap dia? Apakah mencoba mengatasinya, mengubah situasi, move on, atau malah drama? Si emotionally unstable akan mengubah semua peristiwa yang terjadi menjadi drama yang tak pernah berakhir.
Baca Juga: 7 Tanda Pasangan Kamu Bisa Dipercaya
3. Mood Swings
Sumber: Ilustrasi mood. (Freepik/mizkit)
Perubahaan mood dalam diri seseorang adalah hal yang sangat biasa terjadi. Tapi, umumnya, perubahan mood terjadi dalam porsi yang kecil dari keseluruhan hidup seseorang. Suasana hati berubah seiring dengan apa yang terjadi di sekitarmu. Namun, tidak pada orang dengan BPD. Suasana hatinya dapat berubah drastis dan terus menerus, bahkan tanpa alasan yang jelas.
4. Kurang Empati
Sumber: Ilustrasi kurang empati (Freepik)
Empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan orang lain dan melihat suatu peristiwa dari sudut pandang orang lain. Orang yang memiliki gangguan emosi tak stabil, akan merasa kesulitan untuk melakukan ini. Ia akan cenderung melihat segala hal dari kacamatanya sendiri tanpa mempedulikan perasaan orang lain.
Baca Juga: 5 Cara Bangun Kepercayaan pada Pasangan
5. Selalu Menjadi yang ‘Lebih’
Sumber: Ilustrasi pasangan (Freepik)
Pacar yang memiliki masalah dengan kestabilan emosinya, ingin menjadi pihak yang ‘lebih’. Misalnya, kamu lagi menceritakan betapa harimu berjalan dengan buruk, dia akan menimpali dengan cerita yang lebih buruk dan menjadikan dirinya ‘pemenang’ atas cerita terburuk hari itu. Hal itu dilakukannya untuk merasa diri lebih berkuasa atau membuatmu sebagai pihak yang ‘kalah’.
6. Sulit Mengaku Salah
Sumber: Ilustrasi warna kebohongan. (Freepik)
Orang yang punya masalah emotionally unstable, sangat sulit mengakui diri salah. Mengaku bersalah akan dipandang sebagai ancaman buat eksistensi dan identitas dirinya. Karena itu, ia tidak akan memposisikan diri sebagai yang kalah, meskipun di dalam hatinya ia tahu bahwa dirinya bersalah.
7. Menyalahkan Orang Lain
Sumber: Ilustrasi menyalahkan orang lain (Freepik)
Sebagai efek dari sulitnya mengakui diri salah, orang dengan BPD akan cenderung menyalahkan orang lain untuk membuat dirinya merasa lebih baik. Ia tak akan mau bertanggung jawab atas perbuatannya dan malah menganggap apa yang terjadi sebagai kesalahan orang lain.