Alert! Jumlah Sperma Pria Sedunia Turun 50 Persen, Bikin Sulit Punya Anak

Jakarta - Infertilitas atau ketidakmampuan pasangan untuk hamil menjadi masalah kesehatan serius secara global, dengan prevalensi sekitar 10-15% pasangan usia subur di dunia.
WHO memperkirakan sekitar 48 juta pasangan dan 186 juta individu di dunia mengalami infertilitas, baik primer maupun sekunder. di Indonesia, angkanya mencapai 12-15% pada pasangan usia subur.
Masalahnya, banyak stigma negatif yang menyasar perempuan ketika bicara tentang infertilitas. Padahal penyebab infertilitas ini hampir seimbang antara laki-laki dan perempuan.
Penyebab dari laki-laki salah satunya adalah jumlah dan kualitas sperma yang tidak mencukupi. Jumlah sperma pria di dunia bahkan terus mengalami penurunan.
Dokter Spesialis Andrologi dari Eka Hospital Grand Family PIK, dr Christian Christoper Sunnu mengatakan, data penelitian di Amerika Serikat menyebutkan bahwa jumlah sperma pria turun sekitar 50% dalam 5 dekade terakhir.
“Dulu rata-ratanya 90 juta per cc, sekarang hanya 30-40 juta. Ini fakta yang menyedihkan,” kata Dokter Sunnu, begitu ia akrab disapa, dalam diskusi media di Jakarta, Selasa (16/1/2025).
Selain jumlah yang berkurang, ada masalah sperma lain yang diderita pria, yaitu Azoospermia atau Sperma Kosong. Menurutnya, azoospermia adalah kondisi medis serius di mana tidak ditemukan satu pun sperma pada air mani pria.
Secara medis, lanjut Sunnu, Azoospermia dibagi dalam dua tipe, yaitu Obstruktif (Sumbatan) dan Non-Obstruktif (Non-sumbatan).
Azoospermia sumbatan terjadi karena adanya sumbatan pada saluran reproduksi. Penyebabnya karena infeksi lama seperti sering gonta-ganti pasangan tanpa kondom, trauma keras pada area testis, hingga faktor genetik.
Adapun Azoospermia non-sumbatan disebabkan oleh masalah produksi sperma. Penyebabnya mulai dari gaya hidup, merokok, konsumsi ultra processed food, faktor genetik, kurangnya hormon, hingga gondongan dan COVID-19.
Sunnu menambahkan, secara fisik pasien azoospermia tidak menunjukkan gejala yang jelas. Namun pasien yang mengalami azoospermia akibat kekurangan hormon punya beberapa ciri yang sering muncul, seperti:
- Tidak ereksi pada pagi hari;
- Pertumbuhan seks sekunder tidak adekuat;
- Gairah seksual sangat terbatas;
- Ereksi tidak bisa keras atau Disfungsi Ereksi.
“Azoospermia obstruktif maupun non-obstruktif sangat sulit disembuhkan. Sampai saat ini belum ada terapi yang dapat meningkatkan jumlah sperma dari nol hingga benar-benar normal,” pungkas Dokter Sunnu.
