menu
user

Jakarta - Indonesia telah memasuki resesi sejak bulan November 2020. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan secara resmi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 terkontraksi minus 3,49 persen.

Hal ini berarti bahwa Indonesia mengalami resesi setelah dua kuartal berturut-turut mengalami pertumbuhan negatif. Sebelumya, pada kuartal II-2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat minus 5,32 persen.

Resesi yang dialami Indonesia merupakan dampak dari situasi pandemi COVID-19 yang meluluhlantakkan segala aspek kehidupan manusia, termasuk sektor ekonomi. Tak hanya Indonesia yang mengalami hal ini, namun juga negara-negara lain seperti Singapura, Amerika, Jerman, Perancis, Italia, dan masih banyak lagi.

Apa sih yang disebut dengan resesi?

1611370801-resesi2.jpgSumber: Ilustrasi resesi (Freepik)

Dilansir dari Forbes, resesi adalah penurunan aktivitas ekonomi secara signifikan yang berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Suatu negara dikatakan mengalami resesi jika produk domestik bruto (PDB)-nya negatif, angka pengangguran meningkat, penjualan ritel menurun, dan terdapat kontraksi pendapatan dan manufaktur untuk jangka waktu yang lama.

Selama resesi, terjadi kesulitan secara ekonomi, orang kehilangan pekerjaan, penjualan perusahaan menurun dan output ekonomi negara tersebut secara keseluruhan menurun.

Apa Penyebabnya?

Resesi dapat diakibatkan oleh beberapa hal, seperti guncangan ekonomi yang tiba-tiba hingga dampak inflasi yang tidak terkendali. Berikut adalah beberapa hal yang menjadi pendorong utama terjadinya resesi:

1. Guncangan ekonomi yang tiba-tiba

Guncangan ekonomi adalah masalah yang terjadi secara tiba-tiba dan menimbulkan gangguan finansial yang serius. Dalam kasus ini, pandemi COVID-19 yang terjadi secara tiba-tiba dan telah mematikan kehidupan ekonomi di seluruh dunia.

2. Utang yang berlebihan

Ketika individu atau sebuah bisnis memiliki terlalu banyak utang, biaya untuk membayar utang dapat meningkat ke titik di mana mereka tidak dapat lagi membayar tagihan. Hal ini akan menimbulkan kebangkrutan dan perubahan situasi ekonomi.

Baca Juga: Mahfud MD Pastikan Indonesia 99,9% Dilanda Resesi

1611370862-resesi3.jpgSumber: Ilustrasi resesi (Freepik)

3. Menggelembungnya aset

Ketika keputusan investasi didorong oleh emosi, investor bisa menjadi terlalu optimis selama ekonomi kuat dan mulai menggembungkan pasar saham atau gelembung real estat. Ketika gelembung itu meletus, panic selling dapat menghancurkan pasar dan menyebabkan resesi.

4. Inflasi atau deflasi berkepanjangan

Seperti diketahui, inflasi adalah tren harga yang stabil dan naik dari waktu ke waktu. Inflasi bukanlah hal yang buruk. Namun, dalam kondisi inflasi berlebihan, resesi bisa terjadi lantaran daya beli tergerus dan konsumsi melemah.

Sama seperti inflasi, kondisi deflasi berkepanjangan juga bisa jadi faktor penyebab kontraksi ekonomi dan resesi. Deflasi adalah saat harga turun dari waktu ke waktu, yang menyebabkan upah menyusut. Hal ini bisa menyebabkan orang dan bisnis berhenti membelanjakan uang sehingga akan merusak perekonomian.

5. Perubahan teknologi

Di satu sisi, perubahan teknologi dapat meningkatkan produktivitas dan membantu perekonomian jangka panjang. Namun, perubahan besar dalam teknologi juga dapat menyebabkan resesi, misalnya ketika Revolusi Industri, banyak profesi menjadi tak lagi berguna dan jumlah pengangguran pun meningkat.

Komentar
paper plane