Jakarta - Setelah viralnya video perusakan lahan di Hutan Papua yang dipublikasikan oleh BBC News, netizen Indonesia pun ramai mengkritik perbuatan perusahaan asal Korea Selatan tersebut.

Seperti misalnya, komedian Arie Kriting dalam akun Twitternya @Arie_Kriting yang mengkritik netizen Indonesia yang mencintai Korean Pop atau dikenal K-pop agar turut memperhatikan masalah tersebut.

"Coba tolong ade-ade kesayangan pencipta K-Pop, hal macam begini jadi perhatian sebentar. Perusahaan Korea datang bakar hutan, lalu menuduh masyarakat setempat yang bakar karena cari tikus tanah. Apa iya seperti itu? Semoga ada investigasi lanjutan," tulisnya.

Sontak, postingan Arie Kriting pun dibanjiri komentar netizen, ada yang mendukung dan ada pula yang menghujat.

"Lol you made me laugh. Dikira yang suka kpop cuma dede dede gemes aja ya? Aku g tau apa yg salah sama logika kamu tp aku ga bs nemu relevansi k-pop sama urusan itu. Salah alamat, jelas tweet ini cuma nyari sensasi lbh bagus kalo yuk organisir protes pasti pada dukung," tulis @hellomissAnna.

1605240039-hutan-papua.jpegHutan hujan Papua yang telah dibakar oleh Korindo Group. (Mighty Earth)

"Old story but still counting. Udah di up di portal berita di korea sebenarnya tp tidak di indo . My moots help!!! Meskipun kita tau ga bakal dilirik ama pemerintah tp setidaknya ada usaha buat up dan orang” aware!!." tulis akun @HelloSidney97.

"Twit ini bukan untuk nyindir kpopnya tapi buat ngajakin bala bala kpop untuk naikin trending biar viral dan ada investigasi lanjutan," tulis @sigummy

"Korindo ini salah 1 perusahaan Korea yg sdh exist 50 tahun di Indonesia, kantornya di pre4an pancoran jakarta. Relasinya dg pemerintah cukup kuat. Perlu konsistensi & bukti2 kuat utk fight against damaging environment. Ini hal yg sering diabaikan pemerintah sejak dulu," tulis @muljati.

Bahkan, tagar Save Papua menjadi trending topik di Twitter. Hingga Jumat (13/11/2020), setidaknya sudah ada 11 ribu postingan yang menyinggung pembakaran hutan hujan di Papua tersebut.

Sebelumnya, Korindo Group perusahaan asal Korea Selatan diduga telah membakar hutan hujan di Papua. Pembakaran tersebut dilakukan dengan tujuan membuka lahan kelapa sawit untuk bahan utama makanan dan kosmetik. 

Komentar
paper plane