menu
user
Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URamadan

Begini Cara Bangunkan Sahur yang Baik dan Sopan dari Kemenag

Shelly Lisdya,
16 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Begini Cara Bangunkan Sahur yang Baik dan Sopan dari Kemenag
Image: Ilustrasi Bangun Sahur. (Freepik/yanalya)

Jakarta - Bulan Ramadan memang memikiki tradisi unik dari setiap daerah dan negara, di Indonesia sendiri ada satu tradisi unik, yakni membangunkan orang untuk sahur. 

Di media sosial, ada banyak cara-cara unik yang dilakukan masyarakat untuk membangunkan sahur, seperti di antaranya patrol keliling sembari menabuh alat musik hingga mengumumkan di masjid dengan memarodikannya. 

Namun, tahukah kalian, bahwa membangunkan orang untuk sahur harus disampaikan dengan baik dan santun loh, Urbanreaders.

Ya, hal itu diungkapkan oleh Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar) Kementerian Agama, Moh. Agus Salim yang mengatakan, tradisi membangunkan sahur harus disampaikan dengan cara-cara yang santun, baik, dan sopan, agar keutamaan dan keberkahan tetap terjaga.

“Membangunkan sahur itu adalah perbuatan baik, tapi juga perlu dilakukan dengan cara yang santun dan baik untuk menambah kualitas kebaikan itu sendiri," ujar Agus Salim, seperti dikutip Urbanasia, Sabtu (24/4/2021).

Karenanya, saat membangunkan sahur, perlu juga memperhatikan hak kepentingan pribadi orang lain. Jangan sampai mengganggu hak-hak orang lain. Misalnya orang yang sedang sakit, punya bayi atau anak kecil, atau pun warga non muslim. 

Hal ini menurut Agus Salim, sejalan dengan semangat moderasi beragama yang dalam beberapa tahun terakhir didengungkan Kemenag. "Bahkan dalam diskursus moderasi agama tentu saja tidak hanya milik tradisi Islam, tapi juga untuk agama lainnya," tutur Agus.

"Dengan kemajemukan dan multikultur masyarakat Indonesia, maka pentingnya implementasi moderasi beragama di tengah kemajemukan masyarakat untuk merawat harmoni antar agama dan tradisi kebudayaan masyarakat setempat,” imbuhnya.

Sementara itu, Pelaksana Subdirektorat Kemasjidan, Fakhry Affan mengungkapkan, sejak tahun 1978 Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama telah mengeluarkan tuntunan penggunaan pengeras suara. Intruksi tersebut tertuang dalam KEP/D/101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar dan Musalla.

“Takmir masjid juga harus tegas mengatur penggunaan alat pengeras suara atau Toa masjid, misalnya untuk membangunkan sahur pada pukul 02.30 - 03.00 dan 03.30, durasi penggunaannya cukup satu menit, dengan suara yang baik dan cara yang baik,” ujarnya

Menurut Fakhry, di sinilah pentingnya mengimplementasikan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin di tengah kompleksitas kehidupan keagamaan baik masyarakat perdesaan maupun perkotaan, sebagai jalan moderat yang diejawantahkan dalam Pancasila sebagai nilai-nilai moral publik. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait