URnews

Cerita Soal Pengeroyokan, Ade Armando: 5 Menit Terlambat Saya Bisa Mati

Rizqi Rajendra, Minggu, 15 Mei 2022 13.39 | Waktu baca 2 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Cerita Soal Pengeroyokan, Ade Armando: 5 Menit Terlambat Saya Bisa Mati
Image: Ade Armando (Foto: Antara)

Jakarta - Pegiat media sosial sekaligus dosen Universitas Indonesia (UI), Ade Armando menceritakan kisahnya ketika dikeroyok sejumlah orang di depan gedung DPR pada aksi massa 11 April 2022 lalu.

Ade Armando mengatakan, para pelaku pengeroyokan tersebut mengincar kepalanya untuk dijadikan sasaran utama, sehingga ia mengalami luka yang cukup berat.

"Ketika terjadi pengeroyokan, yang jadi sasaran utama adalah kepala saya. Kalau kepala depan bisa saya tutupi dengan kedua tangan saya, tapi kepala atas dan belakang itu jadi sasaran utama tendangan-tendangan," kata Ade Armando dikutip dari kanal YouTube Cokro TV, Minggu, (15/5/2022).

Tak hanya itu, bagian tubuh lain yang tidak bisa ia lindungi seperti perut dan punggungnya ikut menjadi sasaran para pelaku pengeroyokan.

"Ketika itu dokter bilang, kondisi terparahnya tentu saya bisa mati. Kalau saja terlambat 5 menit sampai 10 menit polisi menolong saya, ada kemungkinan saya bisa mati," kata Ade Armando.

Lebih lanjut Ade menjelaskan, kemungkinan dampak paling parah kedua yakni kerusakan otak yang menyebabkan lumpuh dan hilang ingatan, namun untungnya hal itu tidak terjadi.

Akibat insiden pengeroyokan tersebut, Ade Armando harus menjalani perawatan intensif selama sebulan penuh. Akan tetapi, ia juga merasa bersyukur karena dampak yang ia alami tidak terlalu parah.

"Dalam waktu satu bulan (perawatan) itu, dua minggu pertama itu paling berat ya. Tidur selalu terganggu, pusing, kepala sakit, dan muntah-muntah," kata Ade.

"Saya merasa beruntung dan saya sangat bersyukur kepada Allah, karena ternyata saya masih dilindungi. Jadi dalam waktu satu bulan pemulihan, kondisi saya saat ini sudah jauh lebih baik," tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, Ade Armando menjadi sasaran pengeroyokan oleh sejumlah massa saat demonstrasi menolak penundaan pemilu di depan gedung DPR pada 11 April lalu.

Mulanya Ade sempat berbicara kepada wartawan untuk menjelaskan maksud kedatangannya yang mendukung aspirasi mahasiswa yang menolak pemilu 2024 ditunda. Namun, ia terlibat cekcok dengan sejumlah massa hingga berujung kekerasan fisik yang dialaminya.

Polisi pun telah menetapkan sembilan tersangka dalam kasus pengeroyokan itu, sementara dua tersangka lainnya masih buron dan sedang diburu polisi.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait