Hot News

Surabaya - Direktur Utama RSUD dr. Soetomo, dr. Joni Wahyuhadi, membantah komunikasi Pemkot Surabaya dan pihaknya tak berjalan mulus. Joni pun memastikan bahwa hubungan kedua pihak ini baik-baik saja, terutama dalam koordinasi penanganan COVID-19 di Kota Pahlawan itu.

"RSUD dr Soetomo selama ini selalu menerima Pemkot Surabaya dengan baik dan tangan terbuka. Sebelumnya koordinasi juga telah dilakukan di ruang rapat RSUD dr Soetomo, khususnya terkait permasalahan COVID-19 dan tracing," kata Joni di Gedung Negara Grahadi Surabaya, dikutip dari Antara, Selasa (30/6/2020).

Joni menyebut, pihaknya selalu berkomunikasi dengan seluruh Dinas Kesehatan (Dinkes) di 38 kabupaten/kota di Jatim untuk melakukan verifikasi data pasien COVID-19, termasuk dengan Dinkes Kota Surabaya. Hal ini dilakukannya untuk memverifikasi kembali data yang diberikan Kementerian Kesehatan RI kepada Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

Pernyataan Joni ini seakan menjawab keluhan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, saat audiensi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Jawa Timur, Senin (29/6/2020) lalu.

Saat itu di hadapan para dokter, Risma mengatakan bahwa pihaknya susah dan tak memiliki akses untuk berkomunikasi dengan rumah sakit yang berada di bawah kewenangan Pemprov Jatim itu.

Ia bahkan sampai sujud dua kali di hadapan dr. Soedarsono, Ketua PINERE RSUD dr. Soetomo dan meminta maaf. Aksi ini dilakukan Risma usai mendapat curhatan dari dr. Soedarsono soal kapasitas pasien COVID-19 di RSUD dr. Soetomo yang overload.

Selain komunikasi yang tak berjalan lancar, Risma mengatakan bahwa pihak RSUD dr. Soetomo sempat menolak bantuan alat pelindung diri (APD) yang diberikan Pemkot.

Masalah bantuan yang ditolak, Joni menjelaskan bahwa pihaknya tak maksud hati untuk menolak. Ia beralasan bahwa pihaknya masih memiliki APD yang memadai, sehingga memilih untuk tak menerimanya agar bisa diberikan ke rumah sakit lain yang membutuhkan.

"Nanti kalau diterima semua, kami dikira serakah. Kami tidak ingin banyak-banyak karena menyimpan di gudang terlalu banyak juga tidak baik dan berisiko. Ada juga yang mau menyumbang uang, tapi tidak kami terima karena memang tidak boleh," pungkasnya.

Ia pun secara tegas menyatakan bahwa dirinya menghormati Risma sebagai Wali Kota Surabaya, apalagi Ketua Tim Kuratif Gugus Tugas COVID-19 Jatim ini juga warga Surabaya.

"KTP saya juga Surabaya loh. Kalau saya telepon Ibu Wali Kota kan tidak mungkin, sebab saya rakyat biasa. Kecuali, ajudan Bu Wali Kota menelepon saya, baru saya berani bicara di telepon. Tapi yang pasti hubungan (Pemkot dan RSUD dr. Soetomo) selama ini baik dan saya sangat menghargai beliau (Risma)," tutupnya.


Loading ..