menu
user
URnews

Dosen UGM Khawatir Pembelajaran Jarak Jauh Pengaruhi Standar Kompetensi Kelulusan

Nivita Saldyni,
5 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Dosen UGM Khawatir Pembelajaran Jarak Jauh Pengaruhi Standar Kompetensi Kelulusan
Image: Matahari Farransahat (tengah), dosen Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Fisipol UGM. (Istimewa)

Yogyakarta - Matahari Farransahat, dosen di Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL), Universitas Gadjah Mada (UGM) mengaku banyak kendala yang dihadapi pendidik di tengah pandemi COVID-19. Namun dari sekian banyak masalah yang dihadapi, muncul kekhawatiran soal standar kompetensi kelulusan nih.

Pria yang akrab disapa Sais ini mengaku telah melakukan berbagai cara untuk menyampaikan materi yang efektif selama pembelajaran jarak jauh, salah satunya lewat podcast maupun teleconference. Namun, respon beragam dari mahasiswa selama pembelajaran jarak jauh ini telah menimbulkan khawatir baru.

"Yang kami khawatirkan itu dengan delivery (materi) yang seperti ini, apakah nanti kompetensi kelulusan bisa tetap di pertahankan?," kata Sais kepada Urbanasia lewat sambungan telepon, Rabu (25/11/2020).

Apalagi menurutnya tak sedikit mahasiswa yang semakin kehilangan motivasi belajar selama pandemi COVID-19 ini. Hal ini ternyata semakin menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi pendidik.

"Kalau sosial politik masih mending, tapi kalau sudah masuk ke jurusan teknik yang ada praktikum atau pakai laboratorium, saya nggak tahu itu gimana (menjaga standar kompetensi kelulusan)," jelasnya.

Belum lagi 'belajar di rumah' menurutnya membuat pendidik kesusahan mengontrol kelas yang kondusif.

"Teknologi tetap membantu karena kalau ini (pandemi COVID-19) sepuluh tahun yang lalu, mungkin kita libur (bukan belajar di rumah). Namun, efektifnya tetap tatap muka karena kami jadi tahu mereka (mahasiswa) konsen di mana, benar memperhatikan kami atau nggak. Kalau gini (online) kan benar-benar nggak tau, bisa jadi ditinggal (mahasiswa) tidur," bebernya.

Sehingga menurutnya, kunci pembelajaran di tengah pandemi ini sukses dan lancar adalah mahasiswa harus sadar betul posisinya. Sebab meski pendidik adalah motivator bagi muridnya, namun bagaimanapun juga keberhasilan tetap ada di tangan murid.

"Nomor satu dari mahasiswa memang harus paham, sadar betul dirinya itu mahasiswa. Porsi keberhasilan itu dari mahasiswa. Jadi dosen hanya pendamping, fasilitator aja. Karena dengan metode seperti ini, kami sudah kasih ruang untuk konseling, hanya yang benar-benar termotivasi akan menggunakannya. Jadi mereka (mahasiswa) sendiri yang setting goals-nya," kata Sais panjang lebar.

Sementara pendidik dituntut untuk selalu kreatif dalam menyampaikan materi. Tak lupa, pemilihan media yang tepat juga jadi salah satu kunci keberhasilan pembelajaran jarak jauh saat ini.

"Memang kami harus kreatif sih. Misal materi ini bisa pakai media ini, sehingga pendidik bisa saving tenaga untuk kerjakan yang lain. Jadi nggak terlalu terbuang tenaganya," ungkapnya.

Untuk itu ia berharap agar pendidik tak cepat puas dengan suatu pencapaian yang telah diperolehnya. Namun harus terus belajar untuk bisa memberikan yang terbaik kepada muridnya.

"Harapan saya sebagai pendidik, untuk saya juga ya jangan mudah puas untuk mencapai sesuatu. Jadi memang kami harus tetap belajar, upgrade terus. Karena bisa jadi kami malah mendzolimi mahasiswa dengan memberikan pembelajaran yang gitu-gitu aja, yang sebenernya potensi mereka jauh lebih bisa berkembang. Khawatirnya dengan kami memberikan suatu yang gitu-gitu aja, malah jadi batasan bagi mereka (mahasiswa)," pesannya.

Sais pun berpesan agar pendidik jangan segan-segan untuk menghadapkan mahasiswa dengan 'masalah' di sekitar. Sebab, mahasiswa adalah bagian dari solusi atas masalah yang ada di masyarakat. Harapannya dengan begitu, motivasi belajar mahasiswa akan tetap terjaga. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait