Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URstyle

Efektifkah Mix and Match Vaksin COVID-19? Ini Kata Hasil Studi dan WHO

Kintan Lestari,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Efektifkah Mix and Match Vaksin COVID-19? Ini Kata Hasil Studi dan WHO
Image: Ilustrasi vaksin COVID-19 (Unsplash/Brano)

Jakarta - Para peneliti kini tengah mengembangkan berbagai metode untuk mengakhiri pandemi COVID-19. Salah satunya adalah metode mix and match vaksin.

Beberapa negara bahkan sudah melakukan ujicoba untuk mencampur dua merek vaksin berbeda. Inggris misalnya. 

Pada bulan Februari lalu, National Immunization Schedule Evaluation Consortium (NISEC) meneliti respons imun pada lebih dari 800 relawan di atas usia 50 tahun yang diberi dosis vaksin Pfizer/BioNTech diikuti oleh vaksin Oxford/AstraZeneca, dan sebaliknya.

Hasil studi tersebut menunjukkan pendekatan mix and match vaksin dapat memberikan perlindungan lebih kepada masyarakat terhadap virus corona.

"Dari yang sudah dilihat sebelumnya ketika kamu punya dua jenis vaksin yang berbeda, kadang-kadang bisa mendapatkan respons kekebalan yang lebih besar daripada memiliki vaksin yang sama dua kali," ujar Profesor Bryan Williams kepada Sky News, Selasa (9/2/2021). 

Negara lain yang juga melakukan uji coba mix and match vaksin adalah Spanyol. Pada bulan Mei, Studi Combivacs melakukan mix and match pada lebih dari 600 orang berusia 18-59 tahun. Jadi mereka akan menyuntikkan vaksin Pfizer pada orang-orang yang sudah mendapat dosis pertama AsreaZeneca. 

Studi mereka menemukan adanya antibodi IgG dalam aliran darah antara 30 dan 40 kali lebih tinggi pada orang yang mendapat suntikan Pfizer lanjutan daripada pada kelompok kontrol yang hanya menerima satu dosis AstraZeneca.

Hanya 1,7% dari peserta yang melaporkan efek samping usai disuntikkan dua vaksin COVID-19 berbeda, yang mana gejalanya di antaranya sakit kepala, nyeri otot, dan malaise umum.

Jerman pun melakukan hal yang sama seperti Inggris dan Spanyol. Bulan Juli lalu, negara tersebut mix and match vaksin AstraZeneca dengan Pfizer terhadap sekitar 500 relawan.

Hasilnya cukup menggembirakan. Tingkat antibodi penetralisir (antibodi yang bertanggung jawab untuk mempertahankan sel dari bakteri dan virus) para relawan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang menerima dua dosis satu vaksin saja. 

Meski demikian semua studi tersebut masih perlu dilihat lagi perkembangannya lantaran sampel yang diuji masih terlalu kecil. 

Terkait metode mix and match vaksin, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih belum membolehkan secara resmi metode tersebut.

"Mengenai mix and match vaksin COVID-19, jawabannya adalah kami masih belum memiliki informasi secara umum mengenai rekomendasi hal tersebut,” ujar Direktur Departemen Imunisasi, Vaksinasi, dan Biologi WHO, Dr O’Brien dalam acara Tanya Jawab di Kanal YouTube WHO bulan Juli lalu. 

Meski sejauh ini hasilnya menggembirakan, namun WHO masih meninjau efek campuraduk vaksin itu kedepannya.

“Tapi, bukan berarti karena kamu bisa melakukan mix and match vaksin maka itu bisa bekerja secara berkebalikan. Kami akan tetap memberikan informasi update mengenai hal ini, dan memberikan informasi mengenai mix and match," lanjutnya.

Kepala Peneliti WHO, Dr Soumya Swaminathan, juga melarang individu untuk melakukan mix and match sendiri vaksin COVID-19. Ia mengatakan yang boleh mix and match hanya badan pelayanan kesehatan, yang mana mereka melakukannya berdasarkan data ilmiah. 

 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait