URtainment

Tayang 2 April, ‘Aku Harus Mati’ Angkat Sisi Gelap Flexing dan Praktik Pesugihan

Urbanasia, Jumat, 27 Maret 2026 21.57 | Waktu baca 3 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Tayang 2 April, ‘Aku Harus Mati’ Angkat Sisi Gelap Flexing dan Praktik Pesugihan
Image: Poster film Aku Harus Mati yang tayang di bioskop mulai 2 April 2026. (Ist)

Jakarta - Di era media sosial, standar kesuksesan sering kali terasa bergeser. Banyak orang berlomba terlihat berhasil, bukan sekadar benar-benar menjalani prosesnya. 

Feed yang rapi, gaya hidup yang terlihat naik kelas, hingga validasi dari lingkungan jadi tolok ukur baru yang diam-diam menekan banyak orang, tanpa disadari ikut membentuk cara pandang tentang sukses itu sendiri.

Dari situ, muncul satu fenomena yang makin terasa dekat: flexing. Bukan cuma soal pamer, budaya flexing atau pamer pencapaian ini juga tentang kebutuhan untuk diakui. 

Sayangnya, dorongan ini sering kali bikin orang mengambil jalan pintas, bahkan mengabaikan konsekuensi yang harus dibayar demi mempertahankan citra yang sudah terbangun.

Fenomena ini diangkat dalam film horor Aku Harus Mati. Film ini tidak hanya bermain di sisi kengerian, tapi juga menghadirkan refleksi tentang ambisi, tekanan sosial, dan godaan untuk terlihat sukses dengan cara instan yang sering kali tidak terlihat dari luar.

Executive Producer Irsan Yapto secara gamblang menyoroti fenomena ini. Menurutnya, saat ini banyak orang merasa harus terlihat berhasil dan diakui oleh lingkungan. 

“Tekanan itu kadang membuat seseorang tergoda mencari cara instan untuk mencapai kesuksesan. Film ini akan mengajak kita untuk berpikir, apakah mereka yang rajin flexing di media sosial, murni sukses hasil kerja keras atau malah hasil pesugihan?” katanya dalam press screening ‘Aku Harus Mati’ di Jakarta, Kamis (26/3/2026). 

Cerita film ini mengikuti Mala, seorang perempuan muda yang tumbuh sebagai yatim piatu dan kemudian mencicipi kehidupan glamor di kota besar. 

Awalnya terlihat seperti mimpi yang jadi kenyataan, tapi perlahan berubah jadi tekanan karena gaya hidup yang terus meningkat dan kebutuhan untuk mempertahankan citra yang sudah terbangun di lingkungan sekitarnya.

Tekanan itu membuatnya terjebak dalam lingkaran utang, mulai dari pinjaman online hingga paylater yang semakin menumpuk. 

Dalam kondisi terdesak, Mala memilih pulang ke panti asuhan tempat ia dibesarkan, berharap menemukan kembali ketenangan dan jati diri yang sempat hilang setelah terlalu jauh mengejar validasi.

Namun, yang ia temukan justru sesuatu yang jauh lebih gelap. Masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan terungkap, membawa Mala masuk ke dalam rangkaian pengalaman mistis yang tidak bisa dijelaskan secara logika, sekaligus membuka rahasia tentang asal-usul dan konsekuensi dari ambisi yang tidak terkendali.

Di titik ini, cerita berkembang menjadi lebih dari sekadar horor. Ada lapisan tentang pilihan hidup, tentang konsekuensi, dan tentang harga yang harus dibayar ketika seseorang memilih jalan pintas. 

Pesugihan dalam film ini bukan hanya elemen mistis, tapi juga simbol dari ambisi instan yang sering kali terlihat menggiurkan, tapi menyimpan risiko besar yang tidak pernah benar-benar diperhitungkan.

Sutradara Hestu Saputra menegaskan pesan tersebut sebagai inti cerita. Hestu mengatakan, film ini mengajak penonton untuk merenungkan kembali bagaimana ambisi dan kebutuhan akan validasi bisa membuat seseorang kehilangan arah. 

“Teror sesungguhnya dimulai ketika manusia kehilangan kendali atas dirinya sendiri demi memuaskan gaya hidup dan validasi diri oleh lingkungan sekitar,” kata Hestu.

Film ‘Aku Harus Mati’ merupakan produksi perdana Rollink Action dan akan tayang di bioskop mulai 2 April 2026.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait