menu
user
URnews

Epidemiolog UGM Nilai Vaksinasi Jadi Alasan Pemerintah Izinkan Mudik

Shelly Lisdya,
26 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Epidemiolog UGM Nilai Vaksinasi Jadi Alasan Pemerintah Izinkan Mudik
Image: Ilustrasi mudik macet. Sumber: Freepik

Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mengumumkan tidak akan melarang untuk mudik lebaran tahun ini. Namun, apakah kebijakan tersebut dirasa aman?

Epidemiolog UGM, Riris Andono Ahmad menilai, vaksinasi COVID-19 lah yang membuat pemerintah memperbolehkan masyarakat untuk mudik.

“Mungkin beranggapan coverage imunisasinya sudah cukup bagus dan itu mungkin akan menyebabkan situasinya lebih bisa dikendalikan," ujarnya.

Hanya saja, menurutnya, meski sudah dilakukan vaksinasi, namun apabila protokol kesehatan tidak diterapkan dengan baik, penularan pun akan tetap terjadi dan bisa menjadi banyak meskipun penanganannya tidak serumit sebelum mendapat vaksin.

Dengan adanya vaksinasi, Riris menilai, seseorang dengan mudah bisa bersikap abai terhadap protokol kesehatan karena sudah merasa relatif aman.

Dengan tidak adanya larangan mudik tahun ini, kata Riris, daerah bisa saja memberlakukan kebijakan dengan memastikan mereka yang datang memiliki sertifikat vaksin atau surat bebas infeksi. Ini sebagai upaya meminimalkan risiko, meskipun risiko tersebut tetap saja ada dan tidak hilang sama sekali.

Ia berharap pemerintah daerah dalam membuat kebijakan tetap harus berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Sebab, untuk kondisi sekarang ini bisa saja daerah membuat kebijakan sesuai konteks lokal asal tidak bertentangan.

“Surat vaksin, bebas covid dan lain-lain masih sangat diperlukan. Karena itu langkah meminimalkan risiko. Meski dengan upaya seperti itu, tetap saja ada yang tertular. Sama seperti kita sudah vaksinasi masih ada yang terinfeksi," terangnya.

Soal kebijakan yang akan berlaku ini, kata Riris, sebenarnya pembicaraan bukan sekadar pada level individual tetapi pada level populasi. Sebab, jika pada level populasi kejadian itu bisa diminimalkan.

Ia pun berharap pada level besarnya sebaiknya mudik tahun ini ditunda dahulu. Sementara untuk level mikronya bisa dengan mempertimbangkan beberapa hal, misalnya kedua belah pihak baik yang mengunjungi maupun dikunjungi sudah vaksin, protokol kesehatan tetap dilakukan dan menggunakan moda transportasi yang dijamin keamanannya.

“Kita ingat mudik itu biasanya cukup lama, artinya kita bisa tertular selama di perjalanan, kalau mudiknya lebih dari satu pekan bisa menularkan. Saat berangkat sehat, tapi tertular di perjalanan, kalau di kampung halaman lebih dari satu pekan kan bisa menjadi sumber penularan di situ, dan sangat mungkin seperti itu," urainya.

Ia pun mengimbau untuk jangan mudik dahulu. Langkah ini mrncegah pergerakan virus, sebab pelaksanaan vaksinasi masih dilakukan ke pusat-pusat perkotaan dan juga dinilai belum maksimal menekan kasus COVID-19. 

“Risiko penularan masih cukup besar, meskipun kita sudah divaksin pun penularan masih tetap bisa terjadi, dan yang lebih penting itu kan risiko paparan penyakit dan kematian agar bisa diturunkan," tandasnya.

 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait