URguide

Egois Berkedok Self Love, Emang Ada?

Tim Urbanasia, Rabu, 15 Februari 2023 17.01 | Waktu baca 3 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Egois Berkedok Self Love, Emang Ada?
Image: Ilustrasi - Self Love. (Freepik)

Jakarta - Selain love language, self love juga menjadi terminologi yang ramai digunakan masyarakat. Istilah ini digunakan sebagai deklarasi seseorang yang mencintai diri sendiri. 

Selain itu, self love juga digunakan sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri, termasuk bagaimana pun kondisi tubuh. 

Namun demikian, ada orang-orang yang ‘kebablasan’ dalam self love. Bahkan mereka bisa menolak masukan apapun yang diberikan untuknya meski pesan dan masukan itu positif. 

Hal ini juga diamini oleh Psikolog Klinis, Irma Gustiana. Menurutnya, orang-orang yang mengaku self love dan menutup diri terhadap masukan dari orang lain lebih mengarah pada sikap egosentris. 

"Nah berarti itu orang yang egosentris namanya, egosentris itu semua berpusat pada dirinya sendiri dan dia merasa yang paling benar, sehingga dia menutup dirinya dari saran, kritikan," kata Irma saat ditemui Urbanasia beberapa waktu lalu.

Irma menambahkan, orang yang self love tapi tidak mau menerima masukan orang lain itu menganggap masukan dan kritik sebagai sesuatu yang mengancam dan tidak menyenangkan bagi dirinya. 

Oleh karena itu, orang ini menolak mentah-mentah masukan itu, atau bahkan berbalik membenci orang yang memberi masukan. 

Sikap egosentris itu, kata Irma, sangat berbeda dengan self love yang semestinya. Menurutnya, orang yang beneran self love akan menerima saran dan kritik lalu melihat sisi positifnya. 

"Sementara kalau self love adalah ketika orang lain itu memberikan saran, dia memproses, oke ini kenapa orang seperti itu, ‘oh mungkin dia cinta sama saya, mungkin mereka tahu saya kekurangan dan kelebihannya apa’. Jadi itulah yang dimaksimalkan," tuturnya.

Lebih jauh, Irma menerangkan bahwa tidak ada takaran pasti dalam hal self love. Namun jika kondisinya seseorang sudah bersikap berlebihan, bisa jadi dia memang egois, atau parahnya sudah menjadi gangguan Narcissistic Personality Disorder (NPD).

“Orang yang self love dia mencintai diri, kalau dia kurang it’s okay nggak papa ‘saya harus koreksi’, tapi kalo orang yang NPD, atau punya gangguan tertentu, atau egois, ya tadi, ketika ada orang lain memberikan feedback, itu dianggap sebagai ancaman, itu menakutkan bagi dia," lanjut Irma.

Penolakan seseorang atas saran dan kritikan tersebut bisa jadi bentuk defensif mereka dalam membentengi diri. Kata Irma, bisa saja itu terjadi karena masa kecil atau trauma.

Pengalaman tak mengenakkan di masa kecil itulah yang akhirnya membuat mental seseorang cenderung defensif. Ia akan merasa penting untuk menjaga dan melindungi keamanan diri dari orang lain yang berniat buruk.

Irma menambahkan, mengatasi egosentris ini harus berasal dari kesadaran diri sendiri. Pasalnya dalam banyak kasus, orang-orang tersebut kerap kali menolak menyadari tindakannya yang sudah keliru.

"Perlu adanya kesadaran supaya ‘oke saya mau bertumbuh, saya mau berkembang, saya mau jadi berubah jadi orang yang sedikit lebih fleksibel dan luwes menyikapi saran, kritikan, dan lain sebagainya’. Artinya harus hadir dari dalam diri gitu," pungkasnya.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait