menu
user
Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URstyle

Ini Cara Rejuve Cegah Pola Makan Buruk selama Pandemi

Eronika Dwi,
5 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Ini Cara Rejuve Cegah Pola Makan Buruk selama Pandemi
Image: Rejuve.

Jakarta - Rejuve baru saja menyelenggarakan webinar bertajuk 'Flexitarian: Sustaining the Healthy Habits with Real Food'.

Webinar ini diadakan sebagai upaya perusahaan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat akan dampak pola makan yang tidak teratur selama pandemi dan pola konsumsi yang bisa menjadi solusinya.

Menurut CEO dan Presiden Direktur Rejuve, Richard Anthony, banyak riset mengatakan kenaikan berat badan yang signifikan pada masyarakat akibat berkurangnya aktivitas luar ruang, level stres meningkat, dan pola makan kurang terjaga selama masa pandemi ini.

"Fenomena ini tentunya menjadi alarm bagi kita, karena kombinasi dari ketiga hal tadi dapat berdampak buruk bagi kesehatan, seperti obesitas serta penyakit degeneratif lainnya," kata Richard Anthony dalam webinar Rejuve pagi ini, Kamis (3/12/2020).

1606991066-Re.juve-Speaker.jpegSumber: EO dan Presiden Direktur Rejuve, Richard Anthony. (Rejuve)

Richard Anthony menambahkan, diskusi ini bertujuan untuk mengingatkan kembali pentingnya menjaga asupan nutrisi seimbang, memperhatikan aktivitas fisik, serta mengelola stres dengan baik agar terhindar dari berbagai macam penyakit.

Nah, salah satu cara untuk mengaplikasikan tujuan tersebut adalah mengonsumsi minuman sehat seperti Rejuve ini. Rejuve mendorong masyarakat untuk mengonsumsi nutrisi seimbang melalui metode flexitarian.

Meski tidak tergolong baru, metode flexitarian justru belum sepopuler metode pola makan sehat lainnya di Indonesia.

Flexitarian merupakan metode yang berfokus pada peningkatan konsumsi buah dan sayur tanpa betul-betul menghilangkan konsumsi protein hewani, karbohidrat, dan nutrisi tambahan lainnya.

"Di Rejuve, perpaduan seimbang antara konsumsi protein hewani namun dengan porsi yang dikurangi, serta meningkatkan konsumsi buah dan sayur seperti pada metode flexitarian, kami nilai sebagai pola konsumsi yang paling ideal," lanjut Richard.

Menurut konsultan gizi, Dr. Rita Ramayulis DCN, M.Kes, National Center for Biotechnology Information juga mengungkapkan bahwa salah satu manfaat flexitarian adalah berkurangnya risiko berbagai penyakit degeneratif.

"Salah satu manfaat flexitarian adalah berkurangnya risiko berbagai penyakit degeneratif. seperti penyakit jantung hingga 32 persen, turunnya berat badan secara stabil dan konsisten, serta bertahannya kemampuan memori," ujar Rita.

1606991185-Re.juve.jpgSumber: Rejuve.

Selain itu, Rejuve menawarkan produk cold-pressed juice yang mengombinasikan pembelian buah, sayur segar dan organik dalam mengaplikasikan hidup sehat dengan mengonsumsi nutrisi seimbang.

Cold-pressed juice memiliki nilai lebih berupa kandungan nutrisi yang setara dengan sayur dan buah yang diambil melalui teknik juicing terbaik, yaitu cold-pressed.

Rejuve mempermudah konsumen dalam memulai proses meningkatkan konsumsi sayur dan buah harian, sehingga konsumen dapat mendapatkan 100 persen nutrisi alami dari sayur dan buah.

Di Rejuve tingkat higienitas pun selama proses pembuatan juga diperhatikan sedetail mungkin guys. Rejuve menggunakan teknologi ultra-higienis melalui metode end-to-end cold-chain environment di Cold-Pressed Production Facility yang sudah bersertifikasi HACCP.

Rejuve mengatur suhu pada kisaran 8-12°C untuk proses produksi dan 0-4°C untuk penyimpanan.

Untuk air yang digunakan dalam membersihkan sayur organik, buah dan rempah, Rejuve hanya menggunakan air berkualitas standar air minum atau air reverse osmosis (RO water).

Tujuannya, untuk mencegah terpaparnya bahan-bahan alami dan segar yang Rejuve gunakan dari bakteri, mikroorganisme, dan residu yang dapat membahayakan tubuh.

"Kami ingin memastikan bahwa Rejuve menjadi pelopor tren positif ini. Harapannya, masyarakat dapat terus tergerak untuk memiliki gaya hidup yang sehat dan berkelanjutan melalui konsumsi nutrisi seimbang," tutup Richard Anthony. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait