menu
user
URnews

Kemenag Beri Penyuluhan ke Penganut Hakekok Balakasuta yang Viral Berendam Bugil

Kintan Lestari,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Kemenag Beri Penyuluhan ke Penganut Hakekok Balakasuta yang Viral Berendam Bugil
Image: Penganut aliran Hakekok diedukasi Penyuluh Agama Islam (PAI) yang diterjunkan Kementerian Agama. (Dok. Kemenag)

Pandeglang - Baru-baru ini viral di media sosial video yang memperlihatkan belasan orang yang terdiri dari pria dan wanita berendam tanpa mengenakan busana alias telanjang bulat.

Kejadian itu rupanya terjadi Desa di Karang bolong, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Usut punya usut, 'acara berendam' itu rupanya berkaitan dengan ritual penganut aliran Hakekok Balakasuta. Tujuan mereka berendam yaitu untuk membersihkan diri dari segala dosa dan menjadikan diri lebih baik.

Karena dianggap meresahkan, 16 orang yang berendam tanpa busana tersebut pun diamankan pihak Polres Pandeglang.

Menanggapi video penganut Hakekok yang viral di medsos, tak hanya polisi, Kementerian Agama (Kemenag) pun juga ikut turun tangan.

Kemenag menerjunkan Penyuluh Agama Islam (PAI) untuk mengedukasi penganut Hakekok Balakasuta di Pandeglang, Banten. 

“Saya bersama teman-teman penyuluh lainnya sudah ke lokasi, melihat langsung bagaimana kondisinya,” kata Penyuluh Agama Cigeulis Kabupaten Pandeglang, Mahli Yudin, melalui sambungan selular, seperti dikutip dari situs Kemenag, Jum’at (12/3/2021). 

“Ke depan kami (penyuluh agama) juga kan melibatkan tokoh agama setempat untuk memberikan pembinaan secara keagamaan dan pendekatan secara kultur budaya terhadap penganut aliran ini,” lanjutnya lagi. 

1615628154-penganut-hakekok-balakasuta.jpgSumber: Sebanyak 16 anggota aliran Hakekok diamankan polisi saat melakukan ritual mandi bersama tanpa busana, Kamis (11/3/2021). (Dok. Humas Polri)

Mahli menyebut aliran tersebut mengadopsi dari ajaran Hakekok yang di bawa oleh almarhum Abah Edi, dan diteruskan oleh Arya dengan ajaran Balaka Suta Pimpinan Abah Surya Leuweng Kolot.

Menurutnya, aliran ini sudah lama ada di Pandeglang Banten, dan pernah dikembangkan di padepokan atau majelis zikir di Desa Sekon, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang.

“Aliran Hakekok ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 2009, waktu itu sampai membuat keresahan warga yang secara spontan langsung melakukan pembakaran padepokan tempat aliran itu. Kami terus berupaya memantau agar hal itu tidak terjadi lagi,” paparnya.

Mahli Yudin menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian, pemerintah kabupaten, tokoh agama, dan lainnya untuk memastikan tidak terjadi keributan dan tindakan main hakim sendiri. 

"Dan kami juga berkoordinasi dengan pihak kepolisian, pemerintah kabupaten, tokoh agama, dan lainnya, untuk memastikan agar tidak terjadi keributan, dan tindakan main hakim sendiri,” tutupnya.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait