menu
user
URstyle

Long COVID Intai Penyintas, Gejala Mulai Sesak hingga Demam

Kintan Lestari,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Long COVID Intai Penyintas, Gejala Mulai Sesak hingga Demam
Image: Ilustrasi COVID-19. (Pixabay)

Jakarta - Pasien COVID-19 yang sudah sembuh rupanya masih ada yang mengalami gejala-gejala COVID-19. Kondisi itu pun dinamakan Long COVID.

Jadi meski mereka sudah sembuh, penyintas COVID-19 ini masih merasakan gejala COVID-19 seperti mudah lelah atau sesak.

Ketua Dewan Pakar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Profesor Menaldi Rasmin, membeberkan bahwa sebanyak 21 persen pasien yang sembuh berpotensi mengalami long COVID.

"Setelah sembuh dari COVID-19 ada long covid. Datanya saat ini 21 persen penyintas COVID-19 berpotensi mengalami bekas COVID dan mengalami gejala long COVID," kata Profesor Menaldi dalam jumpa pers virtual 1 tahun pandemi di Indonesia, Senin (1/3/2021).

Untuk gejalanya sendiri, dokter spesialis penyakit dalam, Eka Ginanjar, menyebut ada banyak sebab COVID-19 adalah penyakit 1000 wajah.

"Long COVID ini fenomenanya juga baru muncul dua bulan terakhir ini. Macem-macem (gejalanya), kebanyakan sih masalah sesak yang memanjang ketika beraktivitas karena mungkin adanya masalah sikatrik. Sikatrik itu adalah jaringan parut di paru-parunya sampai kepada masalah jantung. Jantungnya jadi lemah terus cepat capek, aktivitas tidak bisa kembali seperti semula. Itu yang paling sering ya lemas, cepat capek, kesehatan tidak maksimal, sampai rambut rontok dan sebagainya. Ada 1 atau 2 tapi tidak banyak," jelas Eka. 

Eka juga menyatakan demam yang tidak turun sebagai salah satu gejala long COVID. Namun itu belum bisa jadi patokan karena masih diselidiki penyebabnya dan bagaimana bisa terjadi.

"Kita masih selidiki, masih banyak melihat apa yang jadi penyebabnya dan bagaimana terjadi, terutama pada orang-orang yang mengalami COVID kondisi sedang sampai berat. Kalau kondisi ringan sih biasanya tidak ada," terang dokter dari Divisi Advokasi dan Hubungan Eksternal Tim Mitigasi IDI tersebut. 

"Ada fenomena yang mungkin belum bisa dijadikan patokan sih, tapi terlihat ada orang yang gejalanya demam tidak turun-turun maka itu berpotensi jadi berat kalau tidak ditangani segera. Butuh para peneliti untuk bisa membuktikan itu secara data," tutupnya. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait