menu
user
Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URtainment

Melihat Isu Sampah Plastik di Film Dokumenter 'Pulau Plastik'

Kintan Lestari,
6 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Melihat Isu Sampah Plastik di Film Dokumenter 'Pulau Plastik'
Image: Press Conference film dokumenter 'Pulau Plastik' di Plaza Senayan, Kamis (29/4/2021). (Dok. Visinema Pictures)

Jakarta - Masalah sampah plastik seakan tidak ada habisnya. Setiap tahunnya semakin besar dampak yang ditimbulkan dari sampah plastik ini.

Beberapa orang sudah merasa keberadaan sampah plastik di Indonesia sudah dalam tahap darurat. Namun tidak dengan yang lainnya. Masih banyak orang yang acuh akan masalah ini.

Untuk meningkatkan kampanye dan edukasi sosial pada masyarakat agar memperbaiki kualitas hidup, Visinema Pictures di Hari Bumi (Earth Day) yang ke-51 merilis film 'Pulau Plastik' pada Kamis (22/4/2021) di Bali.

'Pulau Plastik' merupakan film dokumenter gabungan antara jurnalisme investigasi dan budaya populer, yang mana merupakan kerjasama Visinema Pictures dengan Kopernik, Akarumput, dan Watchdoc.

Film karya Dandhy D. Laksono dan Rahung Nasution ini menghadirkan pendekatan baru yang menyoroti tentang persoalan polusi sampah plastik yang masih menjadi PR besar Indonesia.

“Pulau Plastik bukan hanya kolaborasi para produser, film maker, dan karakternya. Tetapi juga kombinasi antara ilmu pengetahuan, aktivisme jalanan, dan seni,” terang Dandhy.

Dalam film dokumenter ini, penonton akan dibawa mengikuti perjalanan vokalis band rock Navicula asal Bali, Gede Robi, dan ahli biologi dan penjaga sungai asal Jawa Barat, Prigi Arisandi. 

Keduanya tergerak oleh masalah yang sama, yaitu polusi sampah plastik yang makin mengkhawatirkan dan minimnya kebijakan untuk mengatasi krisis tersebut.

Dua pria tersebut pun berkeliling Jawa untuk bertemu pakar, aktivis, sampai melakukan penelitian sendiri guna mengumpulkan bukti tentang dampak plastik terhadap lingkungan dan juga kesehatan masyarakat.

Bagaimana tidak berkeliling, pasalnya Indonesia menjadi negara kedua terbesar penghasil sampah plastik ke laut setelah Cina, yang mana sampah laut tersebut didominasi plastik yang sulit diurai.

“Eksploitasi mineral secara brutal dan konsumsi plastik dalam kehidupan sehari-hari merupakan jalan pintas menuju kehancuran planet bumi, jika kita tidak melakukan sesuatu, sekarang,” tegas Dandhy.

Dalam perjalanannya berkeliling Jakarta, Robi dan Prigi bertemu dengan Tiza Mafira, pengacara muda yang mendedikasikan dirinya untuk melobi pejabat publik dan sektor swasta untuk mengubah kebijakan tentang plastik sekali pakai.

“Saya sudah berusaha. Terkadang kita tidak perlu melakukan hal-hal besar. Tetapi kita bisa lakukan hal kecil dengan semangat dan cinta. Selama saya masih bisa bersuara, saya tidak akan berhenti berusaha,” terang Gede Robi.

Film 'Pulau Plastik' usai diputar perdana di bioskop Bali pada Hari Bumi, sejak kemarin (29/4/2021) bisa Urbanreaders saksikan di bioskop Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, Depok, dan Bandung.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait