Hot News

Jakarta - Setelah curhatan mantan klien PT Jouska Finansial Indonesia yang rugi puluhan juta viral, satu per satu kebobrokan Jouska mulai terungkap.

Makin banyak korban yang berani menceritakan pengalaman mereka saat memakai jasa perusahaan penasihat keuangan independen ini.

Keluhan kali ini datang dari akun @terpedaya, klien Jouska yang telah bergabung sejak tahun 2018. Dengan pertimbangan biaya yang lebih terjangkau, @terpedaya memilih manajemen investasi ketimbang produk komprehensif.

Saat itu, Jouska menawarkan mengelola dana di RDI (Rekening Dana Investor) dan membantu proses transaksi. Jadi klien hanya perlu menyetor uang ke RDI perusahaan, selebihnya mereka yang akan melakukan transaksi. Hal ini tertuang pada poin perjanjian kerja sama @terpedaya dan PT Jouska Financial Indonesia.

@terpedaya yang masih awam dengan investasi tergoda dengan tawaran tersebut. Dia menyetor sebagian gajinya setiap bulan ke rekening RDI miliknya.

"Yaudah dong, sebagai orang yang tidak tau apa2, ini terlihat sangat menggoda, ya gobloknya gue sih gak cari tau dulu. Ya akhirnya tiap bulan gue setor tuh gaji gue yang tidak banyak ke rekening RDI gue, terus ya keliatan tiap mereka ngelakuin transaksi di akun Philips via POEM," cuitnya.

Saat itu @terpedaya masih belum curiga meski ada kejanggalan yang muncul saat dia akan meneken kontrak dengan Jouska. Dia sempat menemukan adanya perbedaan jumlah profit dalam kontrak yang dikirimkan sebelumnya.

"Oh ya btw, pas gue mau ttd itu tiba2 kontrak yang dikasih gue itu beda isinya. Jadi di kontrak yang dikirim email gue itu mereka ambil profit 15%, terus pas gue mau tanda tangan, berubah dong 30%. Gue protes terus diganti jd 15%. Ini aja udah lampu merah sebenernya. Tp gue halu," tulisnya.

Dari pengakuan @terpedaya, Jouska tidak pernah konsultasi atau melapor ke klien selagi melakukan aktivitas jual beli saham. Dia hanya diberitahu setelah jual-beli saham dilakukan. Hal ini dimaklumi mengingat sesuai perjanjian bahwa pihak Jouska (pihak pertama) yang juga akan melakukan eksekusi.

Namun kecurigaannya muncul setelah Jouska membeli saham PT Sentral Mitra Informatika Tbk (LUCK). Dia pun bertanya-tanya soal LUCK kepada Jouska. Saat itu Jouska berkilah mereka telah mengetahui perusahaan tersebut.

“Suatu saat gue liat di porto gue ada LUCK, terus gue tanya dong ini saham apaan. Pihak Jouska bilang kalo 'Oh itu kita tahu kok perusahaannya, kita kenal dengan orang-orang di dalamnya, itu perusahaan bagus dsb.' Means Jouska berarti trading LUCK dengan insider information dong?”

“Gue tekanin lagi ya, pembelian LUCK ini murni hasil eksekusi dari Pihak Jouska/Mahesa ato apalah terserah. Yang jelas bukan gue. Tidak ada konsultasi ke gue. Tidak mendengarkan concern gue yang nggak sreg karena perusahaannya baru, pokoknya “Gak papa ini bagus kok, saham premium.”

Dia makin curiga saat portofolionya naik drastis hingga 100%. Hingga akhirnya portofolio klien jeblok hingga minus 54 % pada Februari lalu dan rugi hingga Rp 62 juta.  Parahnya, konsultan Jouska justru menyarankan agar dia tetap mempertahankan LUCK.

Menanggapi thread ini, seorang pengguna Twitter lain menyayangkan tindakan akun @terperdaya yang tidak mencari informasi sebelum terjun ke dunia investasi saham.

"Bukannya belain Jouska, tapi klien nya juga harus pinteran dikit lah. Hadeh. Jouska ga punya ijin OJK krn emg perusahaan dia ga masuk ranah pengawasan OJK," cuitnya. 

Dia juga menyarankan agar seseorang mencari tahu informasi soal investasi sebelum mulai terjun ke dalamnya.

"Berinvestasilah jika ada dana nganggur/uang dingin. Klo sudah tau 'engga tau apa-apa' sebaiknya belajar dulu lah," sarannya.


Loading ..