Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URstyle

Pakar: Pelaku Usaha Mode Wajib Perbaiki Pengalaman Konsumen

Shelly Lisdya,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Pakar: Pelaku Usaha Mode Wajib Perbaiki Pengalaman Konsumen
Image: Ilustrasi belanja (Pixabay/gonghuimin468)

Bandung - Pelaku usaha mode dalam perdagangan elektronik di masa pandemi harus memperbaiki pengalaman konsumen dalam mencari dan mencoba pakaian, sehingga pengalaman berbelanja di jagat maya bisa menyamai pengalaman belanja di store. 

Hal itu diyakini dapat meningkatkan nilai transaksi mode dalam perdagangan secara daring, terutama saat pandemi COVID-19.

Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB), Reza Ashari Nasution mengatakan, mencoba barang secara langsung masih menjadi pertimbangan utama konsumen dalam membeli produk fesyen. Dengan demikian, konsumen masih memilih jalur belanja konvensional dalam membeli produk-produk mode.

Terbukti saat pandemi COVID-19 pun, kenaikan pembelian produk mode melalui perdagangan elektronik tidak tumbuh siginifikan, bahkan kalah tinggi dibandingkan produk elektronik. 

Dijelaskan Reza, dari hasil survei dari Delloitte yang mengungkapkan bahwa pembelian produk mode mengalami peningkatan sebesar dua persen, sedangkan produk elektronik mencapai empat persen.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan penjualan produk mode pada perdagangan elektronik, penjual perlu memperbaiki pengalaman konsumen membeli produk. 

"Perlu ada inovasi digital dalam membeli produk mode, seperti teknologi virtual yang memungkinkan konsumen mencoba pakaian secara daring," kata Reza dikutip Selasa (9/11/2021).

Salah satu teknologi yang bisa diterapkan yakni dengan membuat avatar tiga dimensi. Konsumen dapat memindai ukuran tubuh mereka terlebih dahulu dengan alat pemindai seperti kamera ponsel pintar. Ukuran tubuh ini kemudian diubah menjadi avatar tiga dimensi yang menjadi referensi untuk mencoba baju secara daring.

Teknologi lain yang bisa diterapkan yakni Augmented Reality (AR). Teknologi tersebut membuat pengalaman mencoba baju secara daring semakin mendekati pengalaman mencoba secara langsung. Alih-alih menggunakan avatar tiga dimensi, konsumen bisa langsung menggunaka citra diri mereka yang ditangkap melalui kamera ponsel, lalu mencoba pakaian yang sudah dikonversi menjadi sebuah produk AR.

Pelaku e-commerce juga harus memperhatikan faktor-faktor lain terkait pengalaman konsumen berbelanja secara daring. Faktor-faktor ini bisa mengurangi kesenangan konsumen berbelanja secara daring. 

"Keamanan bertransaksi, keterlambatan dalam memproses pesanan, ketidaksesuaian antara foto dengan produk riil, kesulitan dalam pengembalian produk, pilihan metode pembayaran yang tidak sesuai dapat mengurangi pengalaman menyenangkan konsumen 
berbelanja daring," ucap Reza.

Tak hanya bagi penjual, faktor-faktor tersebut juga harus dicermati penyedia platform perdagangan elektronik karena terdapat banyak akun toko yang mereka kelola dengan standar kualitas yang berbeda. Untuk mengatasi hal ini, marketplace menyediakan kolom review bagi konsumen untuk menilai layanan dan produk toko serta memberikan rating bagi toko sebagai indikator kualitas layanan mereka.

Pengalaman konsumen dalam mencari informasi di dunia maya juga perlu diperhatikan penjual perdagangan elektronik. Penjual bisa membantu konsumen mendapatkan informasi dengan memberikan rekomendasi produk dan ulasannya dari pakar.

 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait