menu
user
URtech

Pandemi Bikin Banyak Pelaku Bisnis di APAC Mulai Adopsi Hybrid Cloud

Kintan Lestari,
26 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Pandemi Bikin Banyak Pelaku Bisnis di APAC Mulai Adopsi Hybrid Cloud
Image: Ilustrasi cloud hybrid. (Freepik/natanaelginting)

Jakarta - Pandemi COVID-19 merubah banyak hal, termasuk soal teknologi dalam sebuah bisnis.

Pandemi memperlihatkan adanya kekurangan dalam infrastruktur cloud bisnis, sisi keamanan, dan kemampuan arsitektur jaringan yang telah menghambat kemampuan perusahaan untuk beradaptasi dan tetap gesit. 

Karena seperti diketahui, wabah virus corona ini membuat sebagian orang bekerja dari rumah (WFH) dan sebagian lainnya bekerja dari kantor (WFO).

Maka dari itu, perusahaan perlu mengadaptasikan rencana ketangkasan mereka dari memulihkan infrastruktur dan aplikasi hingga mengatur karyawan yang WFH atau WFO. 

Untuk itu diperlukan solusi untuk mempercepat inisiatif-inisiatif transformasi digital. Dan solusinya adalah hybrid cloud. 

NTT Ltd., perusahaan layanan teknologi global, hari ini (17/3/2021) merilis Laporan Cloud Hybrid 2021, yang mana dilakukan pada 950 pembuat keputusan di 13 negara dengan wilayah terpilih di Asia Pasifik (APAC).

Hasil laporan riset itu menggambarkan adanya peningkatan ketergantungan pada teknologi. Laporan juga menemukan tiga poin berikut:

- Garis kehidupan bisnis: 90,0% bisnis di APAC setuju bahwa pandemi telah memaksa bisnisnya untuk mengandalkan teknologi lebih dari sebelumnya.

- Manfaat cloud hybrid sudah jelas: Dengan 60,3% organisasi-organisasi di APAC secara global sudah menggunakan, atau sedang menguji coba penggunaan cloud hybrid.

- Cloud hybrid adalah masa depan: Studi ini menemukan bahwa 31,6% responden di APAC berencana untuk menerapkan solusi hybrid dalam kurun waktu 12-24 bulan ke depan.

Jadi, penggunaan cloud hybrid dipandang penting untuk pemrosesan berbasis data dan pengambilan keputusan secara real time baik sekarang maupun di masa depan.

Ada beberapa motivasi yang membuat perusahaan mengadopsi cloud hybrid. Pertama karena peningkatan kecepatan.

Sebanyak 38,8% bisnis di APAC mengadopsi cloud hybrid karena peningkatan kecepatan dalam penerapan aplikasi dan layanan, seperti sistem yang memungkinkan karyawan dapat bekerja dimanapun dan perusahaan perlu mengakses data dan aplikasi dengan cara yang baru, berbeda, dan seringkali rumit.

Motivasi kedua untuk mengadopsi cloud hybrid adalah peningkatan pada kelincahan bisnis secara keseluruhan (38,3%), diikuti oleh total biaya operasional TI yang lebih efisien (34,0%).

"Infrastruktur kami sekarang memberikan kami untuk fokus pada waktu, sumber daya untuk pengembangan aplikasi dan siklus pengaturan waktu sehingga membantu kami untuk mewujudkan layanan baru untuk dipasarkan lebih cepat," ujar Christophe Le Caignec, Kepala Operasi TI, di Lefebvre Sarrut Services.

Meski demikian, beberapa perusahaan ada yang kesulitan untuk mengadopsi cloud hybrid.

Lebih dari separuh responden di APAC (51,2%) menyatakan kesulitan dalam mengelola keamanan data merupakan penghalang terbesar dalam mengadopsi cloud hybrid. 

Kemudian kinerja jaringan dan kurangnya keterampilan juga dianggap sebagai hambatan yang cukup besar untuk pengadopsian cloud hybrid. Apabila keduanya tidak ditangani dengan tepat, saat menerapkan cloud, maka dapat mengurangi manfaat yang ditawarkannya.

“Saat bisnis ingin menavigasi di tahun yang baru, mereka harus melihat ke lingkungan cloud hybrid yang telah dioptimalkan untuk ketangkasan, keamanan, dan didukung oleh arsitektur jaringan yang tepat sekaligus memenuhi persyaratan kepatuhan. Hal ini adalah fondasi dari kesuksesan dalam implementasi cloud dan akan memungkinkan bisnis untuk mengatasi segala bentuk gangguan yang dihadapinya," pungkas Rob Lopez, Executive Vice President, Intelligent Infrastructure di NTT Ltd.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait