Hot News

Yogyakarta – Untuk menunjang pembelajaran jarak jaruh (PJJ) dengan sistem daring, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berencana memasang infrastruktur jaringan internet di SMA/SMK di wilayah setempat.

Pemasangan jaringan kabel fiber optik sepanjang 300 kilometer yang terkoneksi di sekolah menengah atas tersebut diprediksi memakan anggaran senilai Rp17 miliar.

"Jaringan fiber optik itu nantinya akan menjadi backbone (infrastruktur utama) untuk pengembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam rangka mendukung pembelajaran," kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY Rony Primantoro, seperti dikutip dari Antara (28/7/2020).

Pemasangan infrastruktur jaringan internet itu, kata Rony, diharapkan bisa dimulai pada Agustus 2020 dan ditargetkan rampung akhir tahun ini.

"Nanti untuk wilayah-wilayah yang sulit terjangkau anggaran daerah akan kami kerjasamakan dengan Kemenkominfo," tandasnya.

Menurutnya, pembangunan jaringan fiber optic tersebut bisa menjadi solusi bagi sebagian siswa yang kesulitan mengakses internet untuk mengikuti pembelajaran secara daring dari rumah.

Rony mengakui ada sejumlah titik, khususnya di wilayah perbukitan di Kabupaten Gunung Kidul, Kulon Progo, dan Bantul yang siswanya masih kesulitan mengakses internet di rumah.

"Terutama di wilayah-wilayah, seperti Kecamatan Kalibawang (Kulon Progo), serta Saptosari (Gunung Kidul) yang secara komersial tidak menarik bagi penyedia jasa selular," terangnya.

Ia melanjutkan, setelah seluruh fiber optik terpasang, Pemda DIY bakal memanfaatkan jaringan itu untuk membuat area-area wifi gratis di wilayah sekitar SMA/SMK. Dengan begitu, masyarakat bisa memanfaatkannya untuk berbagai kebutuhan.

"Termasuk wilayah-wilayah yang istilahnya 'blank spot'. Pemerintah kabupaten/kota juga bisa menghubungkan ke sekolah-sekolah di tingkat SMP sampai SD," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Mutu Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY Didik Wardaya mengungkapkan, terdapat 49 titik wilayah yang jaringan internetnya belum optimal untuk mendukung siswa mengikuti pembelajaran secara daring dari rumah.

"Sebanyak 49 titik itu sebagian besar di Gunung Kidul. Bukan berarti sama sekali tidak ada internet, tetapi untuk memperbaiki jaringannya saja," tuturnya.

Didik juga mengakui bahwa tidak semua sekolah bisa menerapkan pembelajaran daring dengan interaktif penuh.

Ia mengatakan, sekitar 30 persen sekolah menerapkan semi interaktif dengan memanfaatkan aplikasi whatsapp karena kesulitan jaringan.

"Sekitar 30 persen semiinteraktif tidak hanya karena signal tetapi ada yang karena guru-nya agak sepuh sehingga kesulitan," katanya.

Didik menambahkan, ada juga beberapa sekolah di Gunung Kidul yang memanfaatkan radio lokal pemancar sementara untuk mendukung proses belajar mengajar.


Loading ..