beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URnews

Perajin Batik Mangrove Keluhkan Minimnya SDM dan Minat Anak Muda

Nivita Saldyni,
25 November 2022 17.28.59 | Waktu baca 2 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Perajin Batik Mangrove Keluhkan Minimnya SDM dan Minat Anak Muda
Image: Anggota kelompok batik Wijayakusuma, Safaatun dan Mustakomah (Foto: Nivita/Urbanasia)

Semarang - Batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang telah dikenal masyarakat dunia. Bahkan masing-masing daerah pasti punya ciri khas batiknya masing-masing, seperti halnya Desa Mangkang, Mangunharjo, Semarang, Jawa Tengah yang punya andalan batik mangrove. 

Salah satu pegiat batik mangrove di Desa Mangkang adalah ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Batik Wijayakusuma. Sayangnya kelompok batik yang telah memulai usaha sejak 2014 ini mengaku kekurangan SDM, khususnya dari kalangan anak-anak muda yang kreatif dan juga paham teknologi. 

Pasalnya sampai saat ini, salah satu anggota Kelompok Batik Wijayakusuma, Nur Hayati mengaku produk Batik Mangrove yang mereka produksi masih punya banyak kekurangan. Selain dari desain atau motif yang menurutnya perlu terus dikembangkan, tak adanya anak muda membuat pihaknya sulit melakukan pemasaran. 

"Emak-emak ini gaptek. Kami tuh inginnya ajak yang muda-muda seperti karang taruna itu kan banyak yang baru selesai kuliah, ada yang belum bekerja. Nah kami ingin jangan hanya yang tua-tua karena nanti tidak ada penggantinya," ujarnya ditemui Urbanasia, Kamis (24/11/2022).

Hariyati selaku ketua kelompok menambahkan, pihaknya sempat beberapa kali mengajak anak muda bergabung dan turut mengelola kelompok batik itu bersama-sama. Sayangnya minimnya minat mereka untuk menekuni profesi sebagai pembatik membuat tak ada anak muda yang bergabung dalam kelompok itu saat ini. 

"Dulu pernah, sekarang sudah nggak ada. Minatnya sedikit, kebanyakan kerja ke pabrik atau perusahaan," jelasnya. 

Namun mereka tak kehabisan akal. Hariyati memastikan pihaknya bakal terus mendorong keterlibatan anak muda, salah satunya yang telah dilakukan sejak 2015 sampai saat ini adalah bekerjasama dengan sejumlah mahasiswa Universitas Diponegoro untuk melakukan pemasaran secara online dan juga bantuan alat. 

Dengan keterbatasan yang ada saat ini, Kelompok Batik Wijayakusuma mampu menghasilkan 10 - 12 batik mangrove setiap bulannya yang telah dipasarkan ke sejumlah kota di Indonesia, termasuk Jakarta dan Palembag. Bahkan beberapa.turis asing yang datang dari berbagai negara juga gak mau ketinggalan loh.

Batik yang dipasarkan dijual dengan harga beragam, mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu yang tergantung tingkat kesulitan pengerjaannya. Pastinya, pewarna yang digunakan 100 persen perwarna alami dari limbah tanaman mangrove sehingga aman untuk lingkungan dan juga nyaman dipakai.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait