Hot News

Jakarta – Di masa pandemi coronavirus disease (COVID-19) ini, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, mengingatkan seluruh Menteri Kabinet Indonesia Maju untuk bekerja keras membuat kebijakan-kebijakan luar biasa yang mementingkan kepentingan rakyat.

Menurutnya, masih banyak Menteri yang biasa-biasa saja dalam menghadapi ancaman krisis yang menghadang di tengah pandemi COVID-19.

“Saya lihat masih banyak kita ini yang seperti biasa-biasa saja. Saya jengkelnya di situ. Ini apa enggak punya perasaan suasana ini krisis,” kata Jokowi dalam Sidang Kabinet Paripurna membahas Rencana Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara Tahun 2021, Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2021, dan Kondisi Perekonomian Terkini Dampak COVID-19 di Istana Negara, Jakarta, 18 Juni lalu.

Jokowi juga menegaskan, dalam suasana krisis seperti saat ini, seluruh Menteri harus ingat tentang tanggung jawabnya kepada ratusan juta penduduk Indonesia.

Terlebih, Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) atau Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi OECD telah menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia akan terkontraksi 6 hingga 7,6 persen. Sementara menurut prediksi Bank Dunia pertumbuhan ekonomi akan minus hingga 5 persen.

“Ini tolong digarisbawahi dan perasaan itu tolong sama, kita sama, ada sense of crisis yang sama,” tegas Jokowi dalam kesempatan yang sama.

“Perasaan ini harus sama, kita harus ngerti ini, jangan biasa-biasa saja, jangan linear, jangan menganggap ini normal,” lanjutnya.

Politisi PDIP Perjuangan tersebut juga mengatakan, sangat berbahaya jika ada Menteri menganggap kondisi krisis ini sebagai sesuatu yang biasa atau normal.

“Saya melihat masih banyak kita yang menganggap ini normal. Lha kalau saya lihat Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara masih ada yang lihat ini, melihat ini sebagai sebuah…, masih normal, berbahaya sekali,” tutur Jokowi.

“Kerja masih biasa-biasa saja. Ini kerjanya memang harus ekstra luar biasa, extraordinary. Perasaan ini tolong sama. Kita harus sama perasaannya. Kalau ada yang berbeda satu saja sudah…, berbahaya,” sambungnya.

Jokowi juga mengakui bahwa tidak ada progress yang baik dari kinerja Menteri di Kabinet Indonesia Maju, terlebih saat pandemi seperti saat ini.

“Saya harus ngomong apa adanya, enggak ada progres yang signifikan, enggak ada,” tandasnya.

Ia juga mengatakan siap jika ada yang memintanya membuatkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) lagi, asalkan demi kepentingan rakyat dan negara.

“Saya pertaruhkan reputasi politik saya. Sekali lagi tolong ini betul-betul dirasakan kita semuanya, jangan sampai ada hal-hal yang justru mengganggu,” pungkasnya.


Loading ..