Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URstyle

Ramai Fenomena 'Curhat' di TikTok, Ini Kata Psikolog! 

Eronika Dwi,
lebih dari 1 tahun yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Ramai Fenomena 'Curhat' di TikTok, Ini Kata Psikolog! 
Image: Ilustrasi TikTok. (Pixabay)

Jakarta - Fenomena 'curhat' tengah ramai mewarnai aplikasi TikTok. Beberapa dari mereka 'curhat' mengenai kisah cinta mereka yang kandas. Namun, ada juga yang curhat mengenai 'bullying'.

Seperti yang ramai baru-baru ini. Seorang pengguna TikTok fiz.zhaa membuat sebuah video 'curhat' hingga menangis mengenai dirinya yang sempat menjadi 'korban bullying' oleh senior di sekolahnya.

Saat diusut, seorang akun Twitter @billiealiss mengungkap bahwa video 'curhat' fiz.zhaa tersebut hanya rekayasa untuk mendapat atensi atau perhatian.

Cuitan @billiealiss mendapat respon banyak pihak yang memiliki pendapat serupa. Bahkan senior yang disebut-sebut fiz.zhaa dalam video 'curhat' nya itu ikut berkomentar bahwa hal itu tidak benar.

Lalu, bagaimana pendapat psikolog mengenai fenomena yang sedang ramai di jagat TikTok itu?

Menurut Psikolog Klinis, Mellissa Grace, M.Psi., Psikolog, ada berbagai alternatif kemungkinan penjelasan yang sangat beragam, unik, variatif, untuk memahami tentang ‘apa yang membuat seseorang melakukan perilakunya (fenomena 'curhat' di TikTok).

"Secara jelas, apa yang mendasari seseorang berprilaku seperti itu hanya dapat diperoleh setelah pemeriksaan psikologis pada yang bersangkutan," jelas Mellissa saat dihubungi Urbanasia, Minggu (31/5).

Namun, Mellissa menambahkan, ada lima hal yang dapat menjadi kemungkinan penjelas mengenai Fenomena perilaku orang yang sering ‘curhat masalah pribadi’ di media sosial:

1. Bentuk eskpresi diri untuk memenuhi kebutuhan akan bentuk-bentuk dukungan sosial emosional dari orang lain.

2. Kebutuhan untuk diterima perasaan maupun pikirannya oleh orang lain.

3. Kebutuhan untuk menunjukkan eksistensi atau keberadaan diri, agar lebih dapat dikenali dan diakui keberadaannya oleh orang lain.

4. Kebutuhan untuk diperhatikan, dianggap penting oleh orang lain.

5. Sebagai kompensasi dari hambatan atau kegagalan seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lainnya di dunia nyata.

Lalu, Mellissa juga mengatakan kalau pun seseorang itu hanya membuat video 'curhat' untuk atensi atau perhatian sehingga bisa memperoleh banyak pengikut, itu hak tiap orang untuk melakukan apa yang ingin dilakukan.

"Namun, satu hal yang pasti bahwa apapun bentuk pilihan perilaku-nya, akan selalu membawa konsekuensi, baik konsekuensi negatif atau konsekuensi positif," jelasnya.

Maka, Mellissa mengingatkan untuk memikirkan secara baik-baik konsekuensi dari perilakunya, baik untuk jangka pendek ataupun jangka panjang, sebelum melakukan sesuatu.

"Hal itu karena mencari atensi sangat jauh lebih mudah dibandingkan mempertahakan reputasi dan respect dari personal branding. Jadi, pilihlah hanya pilihan – pilihan yang terbaik untuk dirimu," tuturnya.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait