beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URnews

Ramai Startup PHK Karyawan, Ini Kata Peneliti INDEF

Putri Rahma,
4 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Ramai Startup PHK Karyawan, Ini Kata Peneliti INDEF
Image: Ilustrasi PHK. (Girindra Syahputra/Urbanasia)

Jakarta - Perusahaan rintisan atau startup tengah menjadi perbincangan hangat dari berbagai kalangan, termasuk terkait pemutusan hubungan kerja (PHK) yang marak terjadi di Indonesia.

Peneliti Institute For Development of Economic And Finance (INDEF) Nailul Huda mengungkap bahwa ada sekitar dua ribu startup di Indonesia. Dari jumlah tersebut, justru banyak startup mulai goyah sehingga melakukan PHK secara massal. 

“Kalau dilihat dari data, ada sekitar 2.000 perusahaan startup di Indonesia. Kenaikan perusahaan startup ini juga sangat massif, namun disatu sisi pada tahun ini terjadi pendanaan yang pasif. Tahun ini potensi dana di Indonesia menurun tajam, sehingga di pertengahan tahun hanya ada sekitar 31 triliun pendanaan. Di akhir tahun, kemungkinan untuk mendapatkan dana hingga 100 triliun pun diprediksi akan sulit,” ungkap Nailul Huda dalam URWealth 'Tsunami PHK Startup', Rabu (15/6/2022). 

Huda mengatakan, karakteristik perusahaan startup di Indonesia masih mengandalkan sistem bakar uang. Hal ini ditunjukan dengan pemberian diskon secara besar-besaran kepada konsumen. Bisnis startup sendiri dianggap masih bermarket pada based on customer.

Menurut Huda, fenomena pertumbuhan startup masih cukup besar, maka pendanaan dari investor pun akan sulit, dikarenakan investor akan lebih memilih startup digital dengan memiliki sistem pemasaran yang baik.

Huda juga mengungkapkan tentang bisnis intangible. Bisnis yang dilakukan secara digital ini termasuk intangible asset, maka dari jika dibandingkan perusahaan konvensional asetnya akan rendah dari valuasi yang ada. Disisi lain, perusahaan start up yang mengklaim memiliki valuasi besar tetapi ternyata hasilnya tidak seperti valuasi yang dikatakan. 

Disisi lain, Ketua Umum (Ketum) Indonesian Digital Empowering Community & Founder LiteBIG, Tesar Sandikapura mengatakan fenomena tersebut cukup lumrah. Hal didasarkan dari adanya kegagalan market bisnis hingga kurangnya investor untuk perusahaan.

“Adanya pengurangan Operating Expenses (OPEX) ini tidak akan meningkatkan valuasi, dan itu tidak sehat. Fenomena ini sudah cukup lumrah,” ujar Tesar.

Tesar juga mengatakan jika valuasi yang tergolong fantastis itu dinilai dari nilai omset bukan dari profit. Adanya kesalahan yang terjadi dalam pengembangan usaha ini karena adanya kesalahan kolektif yang bukan hanya bersumber dari founder atau start up tetapi juga kesalahan investor.

Ia juga menuturkan jika startup terlalu banyak melakukan perkembangan (development), ini akan menyebabkan kekurangan disisi profit.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait